Posted by: lindeukjapati | March 11, 2008

O Namae wa?

O Namae wa ?

“Hallo..hallo.. ini Ipin? Gimana besok siap mobilnya?” tanya Abah pada adiknya, melalui telepon genggam.

“Ya..ya..jangan lupa, habis Dzuhur sudah di sini ya. Oya,Esih, Yuyun sama Sarpan, jadi ikut nganter enggak, Pin?”.

“Ya sudah, jadi semua lima mobil ya? Jangan lupa ya.. pake baju yang bener gitu, malu nanti sama teman-teman si Eneng yang dari kota lain,” ujar Abah sambil menutup telepon genggamnya.

Tiba-tiba´…”Bah!, itu si Eneng kok ngerem terus di kamar, enggak mau keluar, padahal Haji Imron mau ketemu tuh,” tahu-tahu Lia, salah satu keponakan Abah sudah berdiri di sampingnya.

“Lho kenapa? Sudah di ketuk pintu kamarnya?” tanya Ibu Danu yang kebetulan sedang ngobrol dengan bu Lurah di samping Abah.

“Wah..Lia sampe pegel Bu, coba deh sama Abah dan Ibu, mungkin Eneng mau keluar. Haji Imron kayaknya pingin ketemu banget, enggak tahu tuh jangan-jangan si Eneng pulang dari Jepang mau di jodohin sama kang Asep, anaknya yang calon insinyur itu”.

“Hush! Asal ngomong aja kamu! Ya sudah bu, ayo kita lihat ada apa dengan si Eneng?”.

“Eh..eh..ayo, aduh..maaf bu Lurah ditinggal dulu ya,” pamit Ibu pada bu Lurah yang nampak masih ingin ngobrol banyak dengan sang tuan rumah yang saat itu sedang mengadakan syukuran menjelang keberangkatan putrinya ke Jepang

´´´´

“Lho… Eneng, kok bajunya masih belum dimasukkan ke koper ? Terus ini buku-buku juga mana yang mau dibawa? Kan lusa berangkatnya.

“Ahh´ Eneng malas berangkat Bu!” ujar Eneng spontan

“Lho´memang kenapa? Orang lain sih malah pingin ke luar negri, eh´ini malah malas, coba cerita sama Abah dan Ibu, apa yang jadi pikiran?” tahu-tahu Abah sudah ikut nongol di pintu kamar Eneng.

“Ahh..ini semua gara-gara Aki!”

“Lho..kok si Aki dibawa-bawa, memangnya si Aki pingin ikut Neng?” tanya Abah sekenanya.

“Bukan Bahhhh…itu lho, Eneng kesal karena Aki ngasih nama ke Eneng enggak pake perhitungan. Coba dong bayangkan kalau nanti berkenalan sama teman-teman lain di Bandara apalagi di Jepang, kan Eneng jadi maluuu. Ini juga udah sering di godain sama temen- temen se Margahayu!”.

“Ya ampun, itu toh masalahnya? ..hahah´ kan si Aki mah ngasih nama pasti punya maksud, justru dengan perhitungan lho Neng?” ujar Abah geli.

“Artinya kan bagus Neng, walau pun berasal dari Desa, Eneng tidak mudah didekati karena Eneng berpendidikan. Begitu kan?”.

“Ahk Ibu, itu dia, kok kepikiran coba kasih Eneng nama dengan pertimbangan seperti itu. Memangnya Eneng burung merpati apa?”.

“Ahh..sudahlah! yang penting orang Jepang kan tidak tahu arti nama Eneng, lagi pula mereka kan mengejanya akan berbeda dengan kita, bener kan Bah?”.

“Iya, sekarang keluar sana. Haji Imron udah nunggu, Eneng mau dijodohin kali sama si Asep hehe,” goda Abah yang langsung disambut cubitan ibu supaya diam.

“Heuhhh´Asep lagi´ Asep lagi.., padahal mah Eneng sudah nolak sampe tujuh kali, teteepppp aja keukeuh!” Eneng dengan malas beranjak keluar kamarnya, di ikuti Abah dan Ibu yang nampak tersenyum lega karena upaya mereka berhasil membujuk putri semata wayangnya yang memang sering merajuk mengenai permasalahan namanya itu.

´´´

Singkat cerita´ Tiba juga saatnya, Eneng berangkat ke Bandara diantar iring-iringan mobil yang cukup panjang. Sekilas sih´seperti orang yang akan mengantar Haji. 

“Pin, ingat ya´ketika sampai di Bandara, semua memanggil si Eneng ‘Linda’, ngerti?” Abah berkali-kali mengingatkan mang Ipin adiknya yang menyetir mobil di belakang mobil Abah, melalui telepon genggam.

“Sip lah Kang!, semua sudah di kasih tahu, tapiii´kalo si Aki mah enggak janji deh, kan sudah pikun”.

“Ya udah..biarlah si Aki mah, enggak usah terlalu dipikirkan. Nah..jangan lupa semua turun di termisal D, bagian keberangkatan ke luar negeri ya Pin!”          

 “Okeh´okeh´beres lah kang!” jawab mang Ipin yang gemas dengan kecerewetan kakaknya.

Sementara Eneng, nampak nervous, ketika mobil sudah memasuki pelataran parkir Bandara Soekarno Hatta yang baru kedua kalinya ini dikunjungi, setelah dulu mengantar Abah dan Ibu naik Haji. Disatu sisi Eneng merasa bangga karena bisa mendapatkan beasiswa satu tahun ke Jepang, dari Youth Exchange Studies, Japan Foundation dan Year Program. Tapi disisi lain, rasa takut sulit beradaptasi ditambah lagi persoalan namanya yang sering membuatnya malu karena terdengar aneh, membuatnya deg-deg kan tidak karuan saat ini.

“Bah!´awas kelewat, tuh di depan terminal D!” teriak Eneng yang tersadar dari lamunannya

“Iya..dari tadi juga Abah sudah tahu,” jawab Abah sambil memutar stir mobil ke jalur kiri.

“Sarpan, jangan lupa koper-koper Eneng di belakang segera turunkan ya,” pinta Ibu pada adiknya yang sejak dari Bandung ke Jakarta duduk menekuk di jok belakang dihimpit tiga buah koper dan satu dus oleh-oleh.

“Duuhhh´Teteh, ini kaki kesemutan semua susah bergerak, gimana dong?” keluh mang Sarpan sambil meringis.

“Ahh´kan dari tadi juga dibilangin enggak usah ikut, penuh! ehh´maksa juga”.

“Ehh..kan saya mah sudah daftar dari sebulan yang lalu, itu tuhh´Wa Yetti sama Wa Dudung tiba-tiba nyerobot naek mobil si Ipin!” jawab mang Sarpan sewot.

“Husshh! Sudah-sudah jangan ribut, nih udah sampe. Cepetan Pan, buka pintu belakang!” perintah Abah dengan gusar, membuat mang Sarpan berteriak kesakitan karena kakinya tiba-tiba terjepit dus oleh-oleh ketika Abah nge rem mobil dengan keras.

“Adduhhh´ini apa sih Teh isinya, kok berat sekali kelihatannya?”

“Udah jangan banyak protes, itu isinya Ulen, kicimpring, goreng Nila sama Leupeut!”

“Appaaa?, aduh´ibu, nanti timbangannya bakal gede atuh, bisa sampe sejuta bayarnya!!”

“Alaah´sejuta mah ada Neng!, ini sudah ibu siapkan!” jawab Ibu santai sambil menepuk tas tentengnya yang memang nampak menggelembung.

Akhirnya Eneng memilih diam sambil cemberut habis, mau protes juga percuma kalau Ibu sudah memutuskan biasanya sulit untuk di bantah.Apalagi ini sudah sampai di teras Terminal D, tempat dia harus berkumpul dengan sekitar dua puluh orang teman-teman lainnya nanti, yang satu pun belum pernah dikenalnya.

´´´´..

Begitu menginjakkan kakinya di teras terminal D, Eneng langsung mencari rombongan yang bakal berangkat bersamanya ke Bandara Kansai di Osaka. Berbekal selembar surat panggilan resmi dari pihak Japan Fondation, Eneng akhirnya mendapati seorang pria Jepang yang kemungkinan perwakilan di Indonesia dari JF sedang mengabsen beberapa orang sebaya Eneng yang bergerombol di depannya.

“Santi Purisanti ?”

Haik!” jawab seorang gadis berpenampilan modis sambil mengangkat tangannya

“Kemudian´Rinnn´, ini apa, Rindeu..?” nampak sekali sang pengabsen terdengar ragu dengan nama yang dibacanya, apalagi dengan lafal Jepangnya yang sulit membaca huruf ‘L’.

“Eh´maaf, ittuuu´”, Eneng nampak ragu untuk mengakui namanya sambil mendekati pengabsen yang rupanya pemimpin dari rombongan itu.

O nama e wa?” tanya lelaki itu begitu didekati Eneng

“Eh..saya´enggg´,” Eneng semmakin ragu menyebut namanya.

Nihon go de onegaishimasu,”pinta lelaki itu mengingatkan Eneng untuk berlatih bahasa Jepang.

“Ehh´Eneng´eh, Linda´desu,” jawab Eneng menyebut singkatan namanya dengan suara tertahan, sambil menghapal sekilas nama si lelaki itu yang tertempel di dadanya, Yamasashi.

“Oya? Tetapi disini tidak ada nama Rinda,” ujarnya sedikit bingung dengan bahasa Indonesia yang terpatah-patah.

“Eng…sebenarnya, Lindeuk Djapati desu Eneng sedikit terpancing alias kesal dengan keheranan si Yamasashi-san itu.

“Akh, ada’ada… Rindeuke Dijapati ya?, omoshiroi..” ujar si ketua rombongan itu sambil tersenyum lucu. Bukan karena dia tahu artinya, tetapi karena nama itu terdengar aneh dan sulit baginya.

“Ihh..sebel!” gumam Eneng sambil cemberut. Apalagi terdengar beberapa orang diantara rombongan itu tertawa cekikikan.

Haik!, karena waktu kita tidak banyak, silahkan jika masih ada yang ingin dilakukan, saya beri waktu lima belas menit, setelah itu ikimashou!” teriak Yamasashi-san melalui megaphone mungilnya. Serentak rombongan tersebut bubar. Ada yang mencari keluarga pengantarnya, ada yang ke toilet, ada yang menuju boks telepon, sampai tersisa seorang cowok berkacamata tebal berdiri sendirian sambil mendekap tas ranselnya dan satu tangannya lagi menjinjing travel bag besar, nampak kebingungan hendak melakukan apa. Sebenarnya Eneng ingin menyapa cowok itu, tetapi niat itu ia urungkan, karena dari kejauhan nampak keluarga besarnya sudah melambai-lambaikan tangan memintanya mendekat kesana.

“Nengg, ibu sedih sekali rasanya, neng jangan lupa sholat, puasa senin-kamis dan buat surat ya,” sambut Ibu secara spontan sambil sesunggukan dipelukan Eneng      

“Iya..Neng, pokoknya jangan terpengaruh sama budaya yang enggak bener yah, jangan bikin malu Abah!” tambah Abah sambil menahan air mata nya.

Lindeuk! Cucu Akiii…,”tiba-tiba Aki meraih lengan Eneng.

“Ki! Psstt…bukan Lindeuk, tapi Linda!” mang Ipin mencoba mengingatkan.

“Ahkk…Linda’ Linda! Enak saja mengganti nama orang?” Aki malah menepis lengan mang Ipin dengan kesal. Akhirnya mang Ipin mengalah, sambil melirik Abah yang nampak khawatir si Eneng bakal ngambek.

Lindeuk,awas ya..disana jangan pacaran. Walau Eneng itu bernama Lindeuk Djapati, tetapi Eneng harus tetap punya harga diri, ngerti?” pesan Aki dengan parau.   

“Iya Ki, insyaAlloh doa in aja ya, supaya Eneng selamet di sana,” jawab Eneng yang tiba-tiba merasa berat juga berpisah dengan Kakeknya yang cerewet namun sangat memanjakannya itu.

“Neng, jangan lupa titipan bibi, lipstik Kose tea“, pesan bi Esih,istri mang Ipin.

“Ehh´sepatu boot kulit yang warna putih, nomer empat puluh ya neng´.” Bi Yuyun, istri mang Sarpan tidak mau ketinggalan mengingatkan Eneng akan pesanannya.

“Ya ampun…coba ya, bukannya mendoa kan supaya Eneng sukses dan selamet di Jepang, malah sibuk nitip oleh-oleh!” mang Sarpan sedikit kesal dengan kebawelan para ibu-ibu muda itu.

“Memangnya´mang Sarpan nggak nitip oleh-oleh?” pancing mang Ipin menyindir.

“Ahh´saya mah tidak usah lah. Tapi kalo Eneng enggak repot mah´itu saja ´kamera yang ada tipinya alias digital kamera tea hehehe´,” ujar mang Sarpan sembari mesem-mesem.

“Yeee´suka jual mahal si mamang mah!!. Hay-hay bari er-er´” cibir bi Esih pada saudara iparnya.

“Iyya´iyya´sudah ya, Eneng berangkat duluu´, itu sudah dipanggil lagi sama ketua rombongan. InsyaAlloh begitu sampe Eneng nelpon deehhh.” ujar Eneng sambil terburu-buru menciumi tangan dan pipi ibu-abah dan saudara lainnya, lalu berlari ke arah rombongan Yamasashi-san.

“Eiittt´lupa, bu maaf ah itu dusnya enggak usah dibawa berrraattttttt´!” teriak Eneng sambil menunjuk dus besar yang masih teronggok di pinggir jalan ketika turun dari mobil tadi.

Ya alloh´.Sarpan! kenapa itu dus tidak dinaikan ke roda bareng koper si Eneng?” Ibu nampak kaget menyadari dus itu tidak terangkut bersama koper-koper lain.       

“Duuhh´berat Teh, terus kata eneng enggak usah dibawa aja, ” jawab kang Sarpan polos.

Sementara Ibu nampak mengelus-ngelus dada melihat kebandelan Eneng dan mang Sarpan,adiknya.

“Tenang buu´.mungkin si Eneng merasa terlalu berat bawaannya. Ibu juga sih..memberi bekal sampe sebanyak itu. Ya sudah´nanti kita pos kan saja ya, kan alamat si Eneng sudah kita catat,” ujar Abah sambil mengelus punggung Ibu agar tidak kecewa.

“Ya sudah´mudah-mudahan uang ini cukup untuk biaya pos nya.Soalnya´si Eneng kan suka sekali sama goreng ikan Nila”.

“Kalau begitu´sekarang kita pulang saja, makin lama di sini malah makin sedih nih.” ajak Abah sambil menepuk bahu Ibu dan Aki diikuti oleh yang lainnya. Sesekali Ibu menoleh ke belakang, ke arah pintu masuk Ceck in, siapa tahu..Eneng muncul lagi memanggil dirinya.

Sementara Wa Yetti sama Wa Dudung suaminya, nampak sedang beradu bicara dibarisan belakang rombongan.

“Ada apa Wa?..kok ribut terus?” tanya Abah penasaran

“Ini´, Yetti ngambek melulu, tahu begini sih tidak usah ke salon dikebaya lengkap seperti ini katanya´,” ujar mang Dudung sambil menarik ujung kebaya brokat istrinya.

“Lho memang kenapa Wa Yetti?” kali ini Ibu yang penasaran.

“Ya..dikirain…kita nganter sampe pesawat,ehh´tahunya cuma sampe teras ajah!”, jawab Wa Yetti sambil cemberut.

“Hahaha..Wa Yetti, kalo dekat sekali sama pesawat mah, nanti sanggul Wa Yetti bisa hiber atuhh ´”, goda kang Ipin sambil tertawa keras.

“Ahh´dasar si Ipin! ngaheureuyan wae ka kolot teh!” sungut Wa Yetti, kakak sulung Ibu Danu itu, dengan kesal. Namun Abah, Ibu dan yang lainnya malah mentertawakan Wa Yetti. Sebab memang hari itu penampilan Wa Yetti paling ginding alias paling gaya. Seperti mau ke undangan di gedongan saja.

´´´´´..

Sementara itu, Eneng sudah berada di dalam badan pesawat JAL, kelas ekonomi. Suasana dalam pesawat sebelum take off, sangat ramai seperti pasar. Sungguh hal ini membuat Eneng sedikit grogi , maklumlah´Eneng merasa bukan remaja yang datang dari Kota besar.

Eng. .maaf?” tiba-tiba seseorang mohon pamit untuk duduk disamping Eneng.

“Eh´douzo,”jawab Eneng sambil menggeser kakinya. Dan sekilas Eneng melihat bahwa orang tersebut adalah cowok berkacamata tebal yang kelihatan menyendiri pada saat di bandara tadi.

Sampai lima menit lebih berlalu, tidak ada satu pun diantara Eneng dan si kacamata tebal itu yang mulai bicara. Padahal sedari tadi Eneng ingin mendapat teman ngobrol.

“Engg…SMA mana?” Akhirnya Eneng tak tahan juga untuk menegur. “Ehmm..SMA dua,” jawabnya singkat.

“Bandung ?” Eneng masih saja penasaran.

“Engg´Semarang,” jawab cowok itu dengan dialek jawa nya yang kental.

“Oohh´,”akhirnya Eneng menyerah untuk tidak bertanya lagi, sebab cowok itu kelihatan agak kaku dan tidak banyak bicara.

“Tadi banyak sekali yang mengantar, senang ya?” tiba-tiba cowok itu bicara lagi.

“Ehh..iya itu pun sudah dibatasi, kalau tidak sih bisa se kampung ingin ikut semua”.

“Saya sih ndak ada yang mengantar, Bapak dan Ibu sudah tua, jadi saya berangkat ke Jakarta sendirian. Jadi..ini pun yang dibawa baju dan buku-buku saja, ndak ada oleh-oleh untuk keluarga tempat saya homestay nanti,” ujar cowok itu panjang lebar

“Oleh-oleh? memang perlu ya?” Eneng sedikit kaget dengan cerita cowok itu.

“Lha..ya iya toh, mosok kita home stay  ndak kasih apa-apa sama tuan rumahnya?.. saya jadi bingung nih,heuuhh,” keluhnya.

“Aduhh´.kenapa oleh-oleh tadi saya tinggal ya?” kali ini Eneng benar-benar merasa menyesal. Padahal jika dia mau lebih menghargai upaya ibunya untuk membawa dus oleh-oleh yang berat itu, setidaknya dia bisa bagikan pada cowok itu juga nantinya.

Hening sejenak, cowok itu tenggelam dengan lamunannya..sementara Eneng masih menyesali kebandelannya.

“Ehh, ´O nama e wa?” tiba-tiba Eneng menyadari jika mereka belum berkenalan. “Enggkamu?”cowok itu balik nanya.

“Ehmm´Lnda desu!” jawab Eneng pe-de.

“Oh, saya...Inu desu,” jawab cowok itu lirih.

“Ee..Inu??, masa sihhh?” tanya Eneng sambil tertawa. Tetapi si cowok itu nampak merah padam mukanya.

“Ehh´gomenasaii, saya tidak bermaksud mentertawa kan,”sesal Eneng.

“Ahh..ndak apa-apa, itu sudah wajar, wong mau ke Jepang kok namanya Inu, payah,” jawab cowok itu eh´Inu dengan pasrah.

“Panjangannya apa?” tiba-tiba Eneng tertarik dengan nama cowok itu.

“Ehmm..Inu Setiawan,” jawabnya singkat.

“Ehhmm´Inu Setiawan, saya pikir cuek aja punya nama Inu juga. Nantii´kalo orang Jepang nanya artinya, bilang saja Inu yang setia kawan, pasti mereka akan senang. Kann´mereka rata-rata suka banget melihara Inu,”ujar Eneng berusaha membesarkan hati teman barunya itu.

“Ya itu dia, memangnya saya ini binatang piaraan apa?” jawab Inu sedikit kesal.

“Ahh´sudahlah cuek saja. Ehmm´nama saya juga aneh sihh´Lindeuk Djapati, artinya´ jinak-jinak Merpati. Saya singkat saja jadi Linda!hahaha…, Eneng geli sendiri dengan ide Abahnya yang akhirnya dia pikiri lucu itu.

“Haha´lucu juga nama nya, tapi kasihan orang Jepang nanti susah mengeja nya?” akhirnya cowok itu bisa tertawa juga.

“Iya´tadi juga kan si Yamasashi-san sampe belepotan nyebut nama saya, jadi Rindeuke Dijapati´heheh…”Eneng membayangkan bagaimana nanti orang-orang Jepang lainnya akan kesulitan mengeja namanya.

“Tadi nya saya sih ndak pernah mempersoalkan nama Inu, tetapi sejak tahu bahwa dalam bahasa Jepang Inu itu adalah Anjing, wahh´.sempet kalang kabut juga ingin ganti nama,” cerita Inu.

“Hahah´sama dong´” gelak Eneng yang tidak menyangka akan mendapati teman yang senasib dengannya.

“Tapi..kata Bapak saya dulu, beliau memang terinspirasi oleh kesetian sahabatnya yang bernama Ibnu pada saat Bapak ada masalah di kantornya. Kalau bukan karena pembelaannya, mungkin Bapak sudah dipenjara dituduh menggelapkan uang deposito nasabah.” Inu berusaha mengingat sejarah namanya itu.

“Wahh´pasti itu uang yang banyak ya?” tanya Eneng penasaran.

“Ya banyak dong. Walau saya sempat bingung, kok ngambilnya Inu saja, ndak Ibnu sekalian!” ujar Inu sambil cemberut.

“Hahah´mungkin jangan dilihat dari makna seekor anjingnya, tapi dari sifat kesetiaannya, itu akan membuat mu lebih pe-de, iya kan?” hibur Eneng.

“Ya sudah, kalo nanti ada yang tanyaa´O namae wa?” pancing Inu.

“Linda desu! dan kamu?” Eneng balik bertanya.

“Ehhmm´Setiawan desu! anggap saja itu myouji saya, iya ndak?” jawab Inu dengan roman wajah yang riang.

“Siippp´lahhh…!”

Dan mereka berdua pun akhirnya tertawa berderai. Merasa lega dan terbebas dari kekhawatiran jika menghadapi pertanyaan´” O namae wa?”. Dan pepatah..”Apalah arti sebuah nama”, bagi mereka kini menjadi basi. Karena´nama mereka seperti apa pun orang tua memberikannya, ternyata memiliki arti yang cukup mendalam dan memiliki sejarah tersendiri dahulunya.

T a m a t

Catatan kaki:

1. O nama e wa : Namanya siapa?

2. Lindeuk Djapati : Jinak-jinak merpati

3. Keukeuh : Bersikeras

4. Haik : Ya

5. Nihon go de onegaishimasu : Mohon dengan bahasa Jepang

6. San : Tuan/Nyonya/Saudara

7. Desu : Partikel pada akhir kalimat dalam bahasa Jepang

8. Omoshiroi : Menarik

9. Ikimashou : Ayo kita pergi

10. Hay –hay bari er – er : Mau tapi malu

11. Hiber : Terbang

12. Ngaheureuyan ka kolot wae : Menggoda orang tua saja

13. Douzo : Silahkan

14. Homestay : Tinggal bersama keluarga orang Jepang

15. Inu : Anjing

16. Gomenasai : Maaf

17. Myouji : Nama keluarga

Posted by: lindeukjapati | March 11, 2008

Blek Kurupuk

“ Blek Kurupuk “

 

“Assallaamu alaikum..”

“Wallaikum salam..”, serentak kami (aku,kakak laki-laki ku dan ibuku) beranjak dari depan TV, rasa-rasanya..lama sekali kami tidak mendengar suara itu….

“Mimiihhh…..”,, teriak kami berhamburan ke pelukan tubuh tua yang telah berdiri di ambang pintu, dialah nenek dari Ayah..yang selalu kami panggil Mimih

“Duuhh..Gusti..,udah pada gede gini incu mimih..”,sambutnya sambil membelai kepala kami satu persatu dengan tangannya yang renta namun nampak masih kuat

“Ya ampun Mih..ini bawa apa?”, Tanya ibu ku memandang sebuah karung terigu yang teronggok di ambang pintu. Belum lagi Mimih menjawab..Kakak laki-laki ku langsung menggotong nya ke dalam…

“Ini pasti alpukat kesenengan ku…”, jawabnya sambil nyengir kegirangan..

“Eh..tunggu dulu, itu angkot nya masih nunggu didepan..”, tiba-tiba Mimih melepaskan pelukan ku,lalu tergopoh-gopoh ke halaman depan. Kami..sedikit heran..apa kah ongkosnya belum dibayar?..pikir ku dan ibu pun sepertinya berpikir seperti itu

Ternyata…Mimih menurunkan 3 buah kaleng yang cukup besar dari dalam angkot, lalu memberikan selembar 500 an yang kumal ke tangan si supir yang kelihatan sudah manyun.

“Niihhh..Mimih buat kiripik kacang, kue kembang goyang sama..goreng ranginang”, ujarnya bangga sambil meletakkan kaleng-kaleng itu dengan cekatan di depan pintu.

Kontan saja..aku dan ibu saling berpandangan sambil melongo..,bagaimana mungkin Mimih membawa oleh-oleh sebanyak itu,mana..jarak dari Desa ke Bandung harus ditempuh 5 jam an dengan Bis, dan Mimih sendiri kemana-mana selalu berkain kebaya.

“ Ya ampun Mihh…banyak banget??”, ujarku sambil berusaha mengangkat kaleng besar yang ternyata berat itu.

“Udah jangan banyak ngomong..,Mimih mau sholat Ashar dulu”, jawab mimih langsung melepas kemben dan selendang yang menutupi kepalanya..aroma minyak wangi khas orang tua tercium bercampur keringatnya..namun Mimih sepertinya tidak pernah lelah..yang dilakukannya langsung mengambil air wudlu..,sholat dan duduk berdoa lama sekali menurut ukuran kami.

“Mimih..lama banget sih berdoa nya…kan belum minum?”, Tanya ibu pada ibu mertua nya sambil mengangsurkan segelas teh manis hangat

“ Ehh…atuh..mimih kan harus syukuran..karena..sampe di Bandung selamet..apalagi bisa bawa oleh-oleh kesenengan anak, menantu dan cucu-cucu”

Ibu ku hanya bisa tersenyum mendengarnya..dengan sayang ibu memijit-mijit kaki Mimih yang selonjoran..sementara aku rebahan dipangkuannya, dan kakak laki-laki ku sudah asyik dengan Alpukatnya..

“Tapi..kalau Aa tahu Mimih babawaan sebanyak ini suka marah Mih..,kan Mimih udah tua..nanti ada apa-apa dijalan gimana?”, ujar ibu ku pelan-pelan takut mimih tersinggung…..

“Ah..biar aja, kan ini mah keinginan Mimih sendiri bukan diminta sama si Aa”, jawab Mimih santai..

“Ya sudah..Mimih sekarang tiduran dulu.., nanti sore dibangunin ya…”,, bujuk ibu, sambil mengamit lengan mimih ke kamar, aku pun beringsut dari pangkuannya..ahh..asiknya setiap Mimih berkunjung ke Bandung..selalu banyak cerita nantinya..,gumamku senang.

 

……………………………..

 

Benar saja dugaan ibu, begitu Bapak datang dari kantor dan melihat 3 buah kaleng besar berjejer di dapur dan sebuah karung berisi sekitar 5 kilo an Alpuket, langsung ngomel-ngomel…

“Ya..Alloh….,udah dibilangin berkali-kali jangan babawaan sebanyak ini..masih aja bandel!”, ujar Bapak  memandangi oleh-oleh itu sambil geleng-geleng kepala

“Mungkin ingin nyenengin cucu pak..”, ujar ibuku sambil membuat kopi

“Tapi..kan Mimih teh udah tua, dulu juga pernah kejadian jatoh dari bis, karena kainnya keselip waktu nurunin blek-blek kurupuk ini!”, jawab Bapak sambil menunjuk kaleng-kaleng besar yang sudah usang dan disana-sini sudah ada karatan. Ibu, aku dan kakak ku saling berpandangan…iya juga ya…bahaya sekali membawa barang sebanyak ini untuk orang setua mimih..tapi..itulah mimih, selalu keras dan tidak menggubris nasehat Bapak yang kebetulan anak satu-satu nya.

“Mana Mimih nya?”,tiba-tiba Bapak menanyakan keberadaan mimih

“Tidur dari tadi belum bangun, mungkin kecapean”, jawab ku.

“Tuuhh..kan, ya sudah, tolong semua isi kaleng ini dipindah ke dalam plastik-plastik besar!”, perintah Bapak pada ku dan kakak ku

“Kenapa sih dipindahin kan praktisan gitu!”, protes kakak ku sepertinya dia malas

“Sudah jangan banyak tanya, ayo..mana plastiknya!”, Bapak langsung menyingsingkan lengan bajunya, kami pun segera menuruti keinginannya..

“Hhmm…anak sama ibu sama-sama kerasnya…”,gumam ibuku pelan, aku pun terkikik mendengarnya.

 

Setelah semua isi kaleng berpindah tempat, Bapak langsung menggotong kaleng-kaleng itu kebelakan rumah sambil membawa palu. Kami jadi heran..lho mau diapakan rupanya??…,kami pun beriringan mengintip ke belakang. Ternyata Bapak langsung memukuli kaleng-kaleng itu dengan palu, dan tidak makan waktu lama….. ke 3 kaleng itu sudah berubah wujud menjadi gepeng!

“Supaya,,kaleng ini enggak dibawa-bawa  kesana kemari dan diisi oleh-oleh yang banyak lagi!”, ujar Bapak sambil berlalu ke kamarnya…

Ibu,aku dan kakak ku saling berpandangan…”Duuuhhh…bakal perang dunia nih!”, gumam kami bersamaan.

 

……………………………

Namun malam itu waktu terlewati dengan aman, karena  kerjaan Mimih hanya tidur,sholat.makan dan..tidur lagi..diselingi ngobrol-ngobrol sebentar dengan Bapak,ibu dan cucu-cucunya.

Pagi-pagi…setelah sholat subuh Mimih nampak mondar-mandir di dapur.

“Neng..mana Blek kurupuk mimih?”..

“Eh…oh..mau apa Mih?”..ibu jadi grogi, sementara aku dan kakakku langsung mendelik kaget

“Mau nyuguhin si Aa, sepertinya sejak semalem belum tahu ada ranginang”

“Iitttuuu..di plastik mih, biar sama saya aja”, ibu langsung mengambil piring dan membuka plastik berisi ranginang

“Aehh..aehh…kenapa di plastikkan, blek kurupuk na mana?”, Mimih nampak terkejut sekali

“Enggg……ituuu….sama Aa di belakang diiii…..”, ibu kebingungan menjawabnya sambil menunjuk pintu ke arah halaman belakang. Mimih tidak banyak bertanya langsung membuka pintu belakang. Sementara kami didalam menunggu dengan cemas…

“Mana si Aa!!”, teriak mimih sambil menggotong 3 buah kaleng besar yang sudah gepeng ke dalam

“Lagi nonton berita…”,jawab kakakku polos sambil menunjuk ke ruang tengah

“Lalawora pisan!! Ngaruksak blek kurupuk mimih, obong kenah loba duit nya!!”, mimih terus saja mengomel sambil mengacung-acungkan ketiga kaleng gepeng itu..didepan Bapak.

“Astagfirulloh..Mih, coba ingett..dulu juga gara-gara bawa blek kerupuk ini, mimih jatuh dari bis kan?”,Bapak mencoba sabar

“Teu bisa!! Poko na..dina hukum na ge dosa ngaruksak barang batur mun teu ngomong kanu boga na!”

“Iyyaaa…….tapi kan kalengnya juga udah pada butut, karatan..dan…”

“Biar butut tapi mimih mah selalu mencucinya sampe bersih!”,jawab mimih kali ini sambil menangis sesunggukan..akhirnya kesabaran Mimih habis juga, langsung saja mimih membanting kaleng-kaleng itu kelantai..sambil berlari ke kamar, meninggalkan Bapak,Ibu,Kakak dan aku yang masih bengong melihat kemarahannya…..Tidak lama kemudian Mimih sudah keluar dengan tas pakaian dan selendangnya..

“Pokoknya mimih mau pulang!!, asa teu dihargaan mimih mah!”, ujar Mimih sambil menyeka matanya dengan saputangan..lalu bergegas ke pintu depan, spontan kami semua berusaha mengejar dan mencegahnya..tapi terlambat..Mimih sudah melompat, bayangkan melompat!! Ke dalam angkot yang kebetulan melewati depan rumah dan belum berhenti betul ketika di stop mimih tiba-tiba.

“Ya Alloh….bener-bener jagoan si Mimih teh..”, gumam kakak ku sambil berkacak pinggang dan menggeleng-geleng kan kepala nya……sementara ibu dan aku terbengong-bengong tidak mampu berbuat apa-apa..dan dari dalam..kulihat Bapak memandangi kepergian ibunya dengan mata nanar…”Ahkk…Mimih..mimih…andai Abah masih ada..mungkin mimih tidak harus pergi-pergi sendiri seperti ini….andai dirumah ada mobil tentu anakmu ini akan sering-sering berkunjung bersama cucu-cucu kesayanganmu..ke Desa…”, kira-kira seperti itu mungkin pikiran ayahku.

 

Dan sejak kejadian itu..mungkin bisa sampai 3 bulan lamanya kami tidak mendengar kabar dari Kuningan..gara-gara blek kurupuk butut, akhirnya..Bapak memutuskan untuk cuti dan kami pun berangkat ke Desa..dan oleh-oleh yang kami bawa..3 buah blek kurupuk baru yang dengan susah payah kami dapatkan di pasar Cibadak…duhhh….blek kurupuk..blek kurupuk…., hebat benar artimu untuk seorang Mimih!!

 

Selesai

 

*Blek kurupuk: Wadah kerupuk seukuran 3 kalinya kaleng kue kong guan

*Babawaan : oleh-oleh/ barang bawaan

*Incu : cucu

*Butut : jelek

*Lalawora pisan!! Ngaruksak blek kurupuk mimih, obong kenah loba duit nya :

sembarangan!! Merusak blek kerupuk mimih, mentang-mentang banyak uang

*Teu bisa!! Poko na..dina hukum na ge dosa ngaruksak barang batur mun teu ngomong kanu boga na :

Tidak bisa!! Pokoknya secara hokum merusak barang orang lain tanpa memberi tahu pemiliknya adalah dosa

*asa teu dihargaan mimih mah : Mimih merasa tidak dihargai

 

Posted by: lindeukjapati | March 11, 2008

Iteung ingin jadi ustadzah

Kenapa tiba-tiba Iteung ingin down to earth..

Iteung ingin jadi Ustadzah..

Iteung ingin jadi penceramah…

Iteung ingin berjubah lagi…

Iteung ingin jadi mentor lagi seperti jaman kuliah…

Iteung ingin jadi Aisah dalam Ayat ayat cinta… yang penuh kasih dan sayank sama kang Kabayan..

Ya Alloh..mungkinkah semua ini menjadi kenyataan???…

Iteung ingin jadi ustadzah ya Alloh….

Posted by: lindeukjapati | March 11, 2008

kenangan bersama Neng Epi

Dulu, waktu Iteung baru hadir di Nagoya, Iteung berkenalan dengan seorang mahasiswi, anu langsing, sok ngageulis jeung sok ngabanyol.

Namanya mah meuni bener-bener gambaran gadis ti bumi parahiyangan, Evy Mulyani, tapi Iteung lebih senang memanggilnya “Neng Epi “.

Sebenernya Iteung juga lupa bagaimana awal nyobatan dengan neng Epi, yang jelas mah dengan Neng Epi lebih banyak kenangan indah na daripada pahit na hehe.

Tapi tak lebih karena baik Iteung dan neng Epi punya hobi sama, tukang jalan-jalan, balanja dan yang jelas mah sama-sama osok moyok onechan Jepang nu sok dandan araraneh Hehe..(duhh…hampura nya onechannn…)

neng Epi dimata Iteung, memang low propil pisan jalma na, suka meng”Aduh” dan suka merendah, tapi mun dipoyok sok manyun hihi…padahal mah neng Epi teh ber otak cerdas, bukti na daptar nilai na kabeh A, dan walo neng Epi urang Cicadas tulen, tapi basa Inggris na tidak usah diragukan lg.

Tapi bagi neng Epi, katanya Iteung itu ibu-ibu hebat, dan dewasa, padahal Iteung dari dulu terkenal suka cengeng sekalipun sering keliatan tegar.

Tapi, buat Iteung sendiri, nyobatan dengan neng Epi semua didasarkan pada kebutuhan nurani kerinduan akan babaturan anu bisa pa kumaha, anu bisa silih ngarti jeung silih nga gede keun hate ketika ada yang bersedih sekaligus babaturan seuseurian.

Kini Neng  Epi udah berkarir dengan gemilang di kota metropolitan. Sekarang neng Epi udah mengemban tanggung jawab anu gede, boh sebagai ibu karena nambah anak 1 deui, boh sebagai istri krn perhatian mau tak mau jadi terbagi2 juga sebagai seorang pegawai kantoran di per pajak-an.

Neng Epi..kalaupun Iteung ingin ketemu neng Epi… bukan karena ingin diajak-ajak jalan2 make mobil neng Epi, bukan pula untuk di traktir or dijajanan baju..tapi Iteung ingin ketemu hanya ingin meluk neng Epi..ingin cerita banyakkk sama neng Epi..

Ulah hilap ka Iteung nya Neng…

Posted by: lindeukjapati | March 1, 2008

Muhasabah Iteung

Jumat, 29 feb ’08

Kali ini iteung sekali lagi ngerasa lalai melaksanakan Sholat tepat waktu akhirnya dijama ashar dan dzuhur . kelalaian karena sibuk ini itu seringkali membuat Iteung menyesal namun selalu terlambat. Iteung lalu berusaha mengusir rasa salahnya dengan mendengarkan beberapa alunan nasyid, ceramah dan juga tausyiah yang ada di ineternet.

Kali ini Iteung terpana dengan meninggalnya seorang mantan Rocker gito Rolies, Iteung merasa sedih dan iri, karena gito Rolies meninggal dalam keadaan khusnul khotimah insyaAlloh..

Andai Iteung bs seperti dia..

ya Alloh..ya Robbal Alamiinnn

Posted by: lindeukjapati | January 13, 2008

Calon Pengantin

Calon Pengantin

Part 1

“Hallo..ini teteh?” Suara di sebrang telpon sedikit terdengar parau.

“Betul, ini siapa ya?” saya agak ragu dengan suara itu, rasanya kenal tapi kok pelan sekali kedengarannya…

“Tarsih teh…”

“Ya ampun Sih,..kok tumben nelpon jam segini biasanya..kan lagi kerja?”

“Teh…anter ke dokter bisa enggak, tapi..dokter yang murah ya…”

“Lho?..siapa yang sakit Sih…ya udah janjian di depan Gang ya..”

“Iya…teh, tapi..Tarsih Cuma bawa sepuluh ribu, cukup enggak?”

“Gampanglah…kita ke Poliklinik ITB aja biar murah, tapii…harus agak cepat keburu tutup”

Saya pun segera membenahi benang, jarum dan payet yang berserakan di meja tamu.Ceritanya…saya memang sedang membantu Tarsih mempersiapkan pernikahannya. Dengan modal yang tidak banyak, saya coba carikan kain-kain kiloan di gang Tamim, dan menjahitkannya di seorang kenalan.

Sehingga dengan uang pas-pasan Tarsih nanti bisa memakai baju pengantin putih walau bukan dari bahan satin yang mahal. Dan… supaya lebuh murah sengaja saya mengerjakan sendiri pasang payet-payetnya, sebab kalau semua dikerjakan penjahit bisa

Tidak lebih dari 5 menit, saya sudah menemukan Tarsih berdiri lunglai di depan Gang rumah saya di Pelesiran

“Sih..,kamu sakit apa?..kok muka kamu pucet banget sih?” Tanya saya sambil menggandeng tangannya yang kurus

“Gak tau teh…, sejak kemaren waktu Tarsih abis di lulur sama teteh, sepertinya semua badan jadi dingin..kepala pusing dan…”

“Astagfirulloh..apa lulur itu penyebabnya?..itu kan di oles diluar, kita beli nya bareng kan?”

“Ehh..Tarsih mah yakin itu bukan karena lulurnya teh, tapi…emang badan lagi enggak enak ginih”

“Ya udahhh…hayu atuh cepetan, kan nikahnya sekitar 3 mingguan lagi, nanti gimana dong…”

Saya pun segera membimbing lengan Tarsih untuk menyetop angkot, sebenarnya jalan pun mungkin hanya beberpa menit menuju poliklinik, tapi saya tidak tega.

Poliklinik hampir tutup, namun atas kebaikan penjaganya seorang ibu berjilbab yang ramah dan keibuan, segera mempersilahkan kami masuk begitu melihat wajah pucat Tarsih. Dan saya pun menunggu dengan harap-harap cemas.

“Maaf…mbak ini siapa nya?”, tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruang periksa

“Ssayaa..temannya bu, ada apa ya?”

“Ehmm…sepertinya teman mbak harus dirawat, maaf…dokternya sudah pulang jadi saya yang periksa. Saya tidak yakin apakah Tifus atau…Bronchitis..Cuma dari deru nafas, warna kelopak mata..dan rongga mulut, nampak cukup serius keadaannya”

“Jadi saya harus kemana ini?”,tiba-tiba saya sedikit panik tidak menyangka kondisi Tarsih akan segawat itu

“Lebih baik dibawa ke Rumah sakit, tapi…sementara ini saya beri resep dulu”, sang perawat pun segera memasuki ruang apotik, sementara saya lihat Tarsih masih terbaring di kamar periksa

“Ini..obatnya”

“Berapa bu?”

“Dua puluh ribu”, jawabnya sambil menyodorkan setumpuk obat yang berupa tablet dan kapsul, cukup banyak dibandingkan obat-obat yang biasa saya dapat kalau batuk atau pilek.

“Ohh..maaf ini sepuluh ribu dulu”, saya segera menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan yang sudah lecek milik Tarsih, dan saya pun buru-buru merogoh saku baju, dan…ternyata Cuma ada tujuh ribu

“Sudah…yang sepuluh saja, sisanya pakai ongkos ke rumah sakit ya”, si Perawat segera mendorong kembali tangan saya yang menggenggam usang tujuh ribuan, dan saya pun terkesima melihat kebaikannya..

“Terimakasih bu, semoga Alloh senantiasa membalas kebaikan ibu dengan pahala yang banyak

“Amin…”, jawabnya sambil membuka pintu pemeriksaan pasien, dan membantu Tarsih bangkit dari tempat tidurnya, dengan sigap saya pun segera memasangkan sepatu Tarsih dan membimbingnya keluar.

Ya Alloh…gimana ini??..kalau saya bawa pulang lagi ke pelesiran, badan Tarsih sudah sangat lemas dan panas sekali,sementara mau dibawa ke rumah sakit sepertinya tidak mungkin saya sendirian menemaninya..

Otak saya berputar mencari cara yang terbaik, akhirnya…Tarsih saya duduk kan dulu di bangku, lalu saya segera menuju box telpon tujuan saya segera nelpon suami yang kebetulan sedang pergi ke rumah mertua

“Halo..ini Aa?”

“Iya..ada apa Neng..?”

“A…ini saya bawa Tarsih ke poli ITB, sakitnya lumayan serius katanya harus segera ke RS, gimana dong…tapi udah dikasih obat sih sama perawatnya…”

“Ehhmm…gimana ya…”, Aa jadi bingung juga ditanya mendadak begitu

“Lebih baik dibawa pulang saja dulu ke rumahnya, beritahukan apa sakitnya ke orang tua nya, karena..lebih baik keluarganya yang mengantar”

“Ohh..gitu ya…tapi gak mungkin nih dibawa jalan, kalo naik angkot kasihan..”

“Naik taxi aja atuh..”

“Iya…ini Neng punya tujuh ribu, tapii…itu uang buat belanja besok gimana A?…”, saya segera minta persetujuan suami, walau pun bisa saja saya paksakan untuk menggunakannya, tetapi lebih baik Aa tahu apa yang harus saya lakukan, mengingat…kondisi kami yang menikah selagi kuliah ini juga harus bekerja keras mengambil les disana sini untuk kebutuhan sehari-hari.

“Gak apa-apa..pake aja, insyaAlloh nanti juga ada rezeki untuk menggantinya.Udah…sana cari taxi, sebentar lagi Aa pulang ke pelesiran”

“Ya udah..doa in ya A…Tarsih enggak apa-apa”, Klik saya pun segera menutup telpon, dan..masyaAlloh…Tarsih sudah tergeletak tak berdaya di bangku poliklinik, akhirnya dibantu beberapa orang Satpam BNI yang bertgas di samping ploklinik ITB, saya pun berhasil membawa Tarsih ke dalam taxi dan membawanya pulang sampai di rumah….

…………..

Bersambung

Posted by: lindeukjapati | January 13, 2008

Beri Aku Kesempatan…part 1-3

Beri aku kesempatan….

Part I

Siti Sarah namaku…cukup dikenal diantara mahasiswa angkatan 1997 pada saat itu.
Dengan tubuhku yang sedang, Sarah..demikian aku selalu memperkenalkan diri, selalu ada di mana-mana. Aku selalu tampil di depan jika barisan Badan
Eksekutif Mahasiswa mengadakan Demo, selalu pula hadir dalam kegiatan Orientasi Mahasiswa baru, selalu meramaikan juga panggung-panggung kesenian kampus dengan Unit Band kampusku dan jangan heran jika aku pun kadangkala hadir dalam acara-acara pengajian di Jurusanku “ Teknik Penerbangan”

Keberuntungan yang aku dapatkan sehingga mampu menembus bangku kuliah di perguruan tinggi bergengsi berikut jurusan yang tidak biasa bagi seorang perempuan, membuat kepercayaan diriku muncul melesat bak roket menembus langit. Kalau mau jujur…asal ku dari keluarga yang biasa saja, tidak kaya..tapi juga tidak miskin.Orang tua ku juga bukan dari kalangan akademisi, tetapi Ayahku mempunyai garis keturunan para Bangsawan kota Cirebon, yang masih saja bangga dengan leluhurnya..dan selalu berfikir bahwa keturunan darah biru adalah strata paling tinggi di pulau jawa, sekalipun waktu telah bergulir dan tidak ada sedikitpun warisan keraton yang pernah kami nikmati dalam kehidupan nyata sampai dengan saat itu.

Kini..dibangku kuliah, aku telah beranjak dengan merangkak ke tingkat semester 7, suatu masa dimana kesulitan yang lebih nyata terasa semakin berat,..kesulitan dalam tuntutan tugas-tugas kuliah yang bertumpuk, biaya-biaya yang semakin besar juga perobahan aliran hormonal dalam tubuhku yang semakin bergolak, energi yang pada mulanya hanya terfokus pada berbagai aktivitas organisasi dsb..kini berubah menjadi lembek..dan ingin mencapai jati diri yang lebih, sebagai seorang perempuan. Diriku terlalu tomboy untuk ukuran seorang perempuan, sehingga belum pernah sampai usia ku menginjak 21 tahun ini aku merasakan getaran-getaran hebat terhadap lawan jenisku…….

Hingga suatu hari aku dihadapkan pada suatu permasalahan…

“Jang..aku merasa aneh dengan perasaan ku akhir-akhir ini..”, ujarku sedikit bergetar. Jajang sahabat ku langsung menoleh dari hamparan kertas Karkir yang sedang dicorat-coretnya membentuk konfigurasi sebuah pesawat tempur Typhoo nya Eurofighter

“Memangnya..apa yang kau pikirkan Sar?..”

“Ahk..gilaa..ini tidak seharusnya aku alami, benar-benar menyiksa!!” desahku..

Well..kau tak akan menjadi gila betulan jika mau cerita pada ku!” Ujar Jajang santai.

“Ahkk…kamu tahu si Carok Madura itu kan?”, tanyaku dengan gusar, sambil berusaha menggambarkan sosok tinggi tegap yang selalu vokal dalam berbagai hal namun juga terkenal dengan reputasinya sebagai keturunan silang antara jenis Buaya Darat dan Macan kampus, begitu istilah teman-teman se kampus padanya.

“E..e..e..rupanya ada yang kena perangkapnya juga neehh…”,Jajang langsung mengomentariku sambil mengerling bandel.

“Gila!!..apa aku kelihatannya seperti itu Jang??”tanyaku shock.

“Hahah…aku sudah kenal banyak temen cewek aktivis model-model kamu Sar, mulanya mereka membenci si Carok itu, tapii..entah pake apa dia akhirnya semua jatuh dan lengket kayak lem takol”, ujar Jajang sambil menyedot dalam-dalam puntung rokok nya.

“Huhh..! sudahlah aku benci dengan keadaanku ini, its only between us Ok?, kataku menyudahi pembicaraan yang menyebalkan itu. Hemm..aku memang sebal, apalagi jika aku bayangkan betapa lengketnya si Carok itu dengan cewek blasteran, anak Arsitek 99 .

“Bener-bener menyebalkan!, ahhh…jangan-jangan aku terbakar api cemburu, gila!”.

Dua bulan berlalu sejak aku terombang ambing oleh..perasaan itu….

Harihari yang biasanya kulalui dengan riang gembira, kini..terasa membosankan..Langkahku ke ruang kuliah serasa berat, ketemu dosen menjadi malas dan kali ini pun ketika rapat dengan para senior BEM, tetap saja tidak membuatku senang, karena..kehadiran si Carok dan cewek blasteran itu selalu membuatku sesak. Tetapi..jika dia tidak hadirpun akan semakin membuatku kosong.

“Akh…kenapa aku jadi bergantung pada keberadaan nya??”, umpatku kesal.

Akhirnya kuseret langkahku keluar ruang rapat, sekalipun si Carok itu sedang berkoar-koar di depan mempresentasikan rencana pemilihan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa yang akan datang.

Aku berlari kencang..entah apa yang kucari, rasanya ada gelombang besar yang akan tumpah ruah dari dalam dadaku,

Ego ku yang besar telah mencapai puncaknya menolak ketidakberdayaan ini,

Sampai aku terhenti tepat di sudut Sekretariat HMI Teknik penerbangan, nafasku tersenggal-senggal dan aku terduduk lemas, sambil menatapi sekelompok mahasiswa dan mahasiswi jilbaber yang sedang duduk terpekur di dalam ruangan itu

“Ehm..Assalaamu alaikum..Siti Sarah kan?” Tiba-tiba sebuah suara yang agak berat menyapa ku.

“Eh..oh..Kang Ahmad?” Aku agak terkejut melihat kehadiran seniorku di penerbangan itu yang tiba-tiba sudah berdiri tak jauh dari ku.

“Hisashiburi desu ne..”, ujarnya dalam Bahasa Jepang yang sudah lama aku tinggalkan.

Ee.. hisashiburri,..genki ?” , tanyaku ragu.

Genki.., kemana aja nih sudah lama tidak datang ke Nihongo club?”, tanya nya.

Eittoo..Choutto..isogashi desu”, jawabku sedikit malu, padahal…karena aku memang pembosan saja. Rasanya hampir semua unit kegiatan kemahasiswaan pernah aku ikuti, finally..semua kandas kecuali kegiatan organisasi kampus, alasanku karena disana..lebih heboh, menantang dan..tentu saja ada si Carok itu,Huh!!.

“Hei kok bengong, mau masuk enggak? lagi ada pengajian tuh..,bagus lho pembicaranya ustadz Abdul Ishak, alumni penerbangan juga, angkatan perintis tahun 91”, ajaknya spontan..

“tettapii…”,jawabku agak malas.

“Ayo lah..sudah lama saya lihat Siti tidak hadir kan?..” ajaknya ramah, sambil mendahuluiku masuk ke ruangan itu.

“Ahk..baiklah..”, akhirnya aku mengalahmemang betul dalam setahun terakhir ini aku sangat jarang mendatangi pengajian jurusan . Dengan sedikit canggung aku memasuki ruangan itu..ups!!..sepertinya semua mata memandangku..buru-buru kutarik kebawah cardigan pendekku jangan sampai kulit perutku mengintip seperti biasanya..

Seorang mahasiswi berjilbab yang sering kudengar biasa di sebut sebagai akhwat yang aku tidak ingat angkatan berapa segera menggeser duduknya..

“Disini mbak..”,ajaknya sambil tersenyum manis..

“Eh..makasih..”,jawabku malu, sambil tanpa sadar tanganku mengusap rambut tukung ku, seolah-olah ingin ku sembunyikan.

“Maaf mbak..kenalkan saya Ningrum..”,tiba-tiba akhwat itu berbisik sambil mengulurkan tangannya.

“Oh..ya,saya Sarah..eh Siti Sarah, hhmm..dik Ningrum angkatan berapa?” Aku mencoba ramah..dan kusebut dia dik, karena wajahnya yang putih bersih menambah ke-muda-annya.

“Saya dua angkatan di bawah mbak Siti…”,jawabnya ramah.

“Ehh..memangnya tahu saya angkatan berapa??”, tanyaku heran.

“Iyya..dong siapa yang tidak kenal mbak Siti..,aktivis BEM, pintar dan cantik lagi..”,jawabnya tulus.

“Oh!!..ee..makasih.., eh berarti seangkatan sama cewek blasteran Arsitek itu dong?” Aku balik bertanya dengan spontan.

“Hhmmm….yang mana ya..??” , akhwat itu nampak bingung..

“Eh..aduuh..maaf…saya asal nanya aja..”, jawabku dengan malu.. “duuhh..kenapa tidak bisa menahan diri begini sih??”..gumamku sedikit kesal.

Selanjutnya..aku terdiam dalam lamunan, sepertinya tak satupun untaian indah sang Ustadz yang mampir dibenakku.

Sesekali Ningrum melemparkan senyuman manisnya padaku, seolah..mengajakku untuk sejenak menyelami lantunan ayat yang disampaikan sang ustadz didepan,ahh..aku pun buru-buru mengalihkan perhatian dari bayangan si Carok menyebalkan itu.

…………………………..

Part 2

Dua bulan telah berlalu dan kini aku sedang tenggelam dalam tumpukan tugas dari dosen pembimbing skripsiku . Kali ini tugasku agak berat, aku harus membuat tahap perancangan awal sebuah pesawat udara.Berhari-hari aku mencoba untuk mengembangkan program analisis konfigurasi pesawat udara dengan spesifikasi yang telah ditentukan oleh dosenku. Sekalipun aku tahu ini pekerjaan sulit dan biasanya aku selalu pontang-panting mencari bantuan kesana-kemari.
Namun kali ini, aku sengaja menenggelamkan diriku seolah-olah ingin mengalirkan seluruh energi ku kesana.

“Hei! Serius banget Sar?” Tiba-tiba sebuah tepukan dipundakku membuyarkan seluruh konsentrasiku.

“Astaga! aku pikir siapa..,ngapain kamu disini Jang?” tanyaku sedikit kesal karena kaget.

Well..well..mau inspeksi ajaa…siapa tahu calon insinyur kita yang satu ini butuh bantuanku..”,jawabnya sambil nyengir.

“Kalau mau bantu, tuuhh..bikinin konsep perancangan dan analisis komputasional Airfoil dan Lifting surface!!” ujarku sambil melemparkan beberapa jurnal ke meja.

“Ahkk…sorry, kalo itu sih bukan mainanku..salah sendiri kamu pilih aerodinamika komputasi, hahah…aku alergi deh kalo bikin program-program analisi kayak begitu”!.

“Alahh…lagak mu aja mau nolongin aku, sudah pergi sana! aku jadi nggak konsen neehh..!!” usirku dengan galak.

“Okay..okay..tapi aku bawa berita nih, kujamin kamu pasti mau denger..”,ujarnya sambil memainkan mimik wajahnya agar aku penasaran.

Tapi aku pura-pura tidak melihatnya, kuteruskan menekan-nekan tuts komputer butut didepanku.

“Ya…sudah!! Mungkin topik si Carok itu sudah tidak laku rupanya ya?” Jajang langsung menembakku dengan sebuah nama.

“Maksudmu??” tanyaku dengan nada menyelidik, kali ini aku benar-benar penasaran.

“Hahah..nyerah juga sekarang!, tuuhhh….kamu dicari-cari sama si Carok itu sejak kemaren, katanya hari ini kamu ditunggu di ruang BEM, jam empat!!” jawabnya dengan singkat, sambil mencomot bekal rotiku lalu ngeloyor pergi tanpa memberiku kesempatan bertanya-tanya lagi.

“Jajang..Jajang..sobatku satu ini emang aneh bin ajaib”, sekilas seperti yang tidak waras karena sikapnya yang nyeleneh, dan penampilannya cuek luar dalam. Tapi jangan ditanya kalo disuruh bikin gambar pesawat tempur, bisa detil and spesifik banget!!!.

“Akhh…tumben..ada apa dia mencariku??” gumamku heran..

Tiba-tiba..desiran aneh yang sekian lama berusaha kuredam muncul lagi..kali ini serasa disengat ribuan voltage listrik

Serentak aku berdiri, karena jam ditanganku sudah menunjukkan pukul empat dua puluh menit!. Segera kusambar tas ku, lalu aku berlari secepatnya menuju Sekretariat BEM yang jaraknya kurang lebih 300 meter dari Laboratoriumku.

Nafasku terasa tersenggal-senggal sesampainya di ambang pintu sekretariat BEM, ku coba untuk merelaksasi seluruh urat syarafku..”Aku..tidak boleh kelihatan grogi seperti ini..”,gumamku pelan.

Perlahan kubuka pintu sekretariat yang memang sepi pada jam-jam seperti ini, ”Ah..jangan-jangan si Jajang ngerjain nih…”, pikirku ragu. Kucoba untuk menjelajahi ruangan itu dengan mataku….sepi.

“Hei, Sarah! aku disini!” Tiba-tiba sebuah teriakan memanggil dari balik tubuhku.

“Eh..oh..maaf aku terlambat, ada apa Car..eh..Man?” Aku terlonjak sambil membalikkan tubuhku dengan spontan, hampir saja aku memanggilnya si Carok, sebab jarang sekali aku menyebut namanya……Hilman. Walau dia dua angkatan diatasku, tetapi dia selalu minta teman-teman memanggil langsung namanya saja.

Its okay..,duduk ”, jawabnya singkat sambil menunjuk kursi disebrang mejanya.

“Huhh…angkuh sekali ..”, gumamku dalam hati, tapi aku tidak ada pilihan lain, akupun duduk di hadapannya. Kupikir dia akan langsung bicara, ternyata yang dia lakukan hanya menatapku lurus tepat ke dua bola mataku. Jelas saja aku salah tingkah, setelah sekian lama sejak rasa itu ada..sepertinya aku tidak pernah duduk berhadapan seperti ini, berdua lagi!

Ya Tuhan.…bola mata elang itu..seakan menyihir seluruh persendianku..

“Aku kangen, lama tidak melihatmu..,sibuk?” akhirnya Dia bersuara juga, dengan pernyataan yang membuatku kaget seperti disengat tawon.

“Hhmm….banyak tugas!, tapii..kenapa harus kangen padaku?” Aku balik bertanya dengan berani walaupun sebenarnya sekuat tenaga aku menahan getaran dalam tubuhku.

“Tidak boleh?” Dia balik bertanya dengan nada tinggi, kali ini aku gelagapan.

“Eh..oh..aku pikirrr… cewekmu banyak, dan kau tidak pernah kehilangan satu pun dari mereka, so..satu saja hilang tidak masalah kan?” Aku mencoba berkelit.

“Jadii..maksudmuu..kau salah satu dari cewekku begitu?” Dia menembakku dengan pertanyaan yang membuatku terhenyak. Yang kurasakan mukaku merah padam, malu, sebal dan..juga sedikit rasa aneh, aku segera memalingkan muka ke arah jendela karena aku tidak mau salah bicara lagi.

Kali ini aku merasa kalah…dan tak berkutik didepannya, menyebalkan!!!

“Akhir-akhir ini aku merasa kau selalu menghindar, bahkan kau melalaikan sebagian tugasmu di sekretariat. Kau tahu kan..tidak lama lagi aku harus berganti posisi dengan ketua BEM yang baru, artinya..banyak sekali laporan pertanggungjawaban yang harus kubuat. Aku tidak tahu apa yang membuatmu menghilang begitu saja..yang jelas aku kecewa!” Tiba-tiba dia bersuara lagi, kali ini dengan rentetan kalimat yang membuatku sedikit merasa terpojok.

“Apa?..kecewa?, hei! siapa dirimu sehingga berhak berkata seperti itu padaku, aku kan bukan sekretarismu!. Selama ini aku hanya membantu tugas kesekretariatan saja..lagipula mana mungkin kau peduli dengan pekerjaanku karena kau sibuk dengannn….”,aku ragu untuk meneruskannya…

“Dengan apa??..siapa?? teruskan!” Suaranya seolah-olah menghardikku, membuat jantungku berdetak hebat.

“Itu bukan urusanku!! Sekarang katakan apa maksudmu memanggilku kemari??” Tiba-tiba keegoanku muncul kembali, aku segera beranjak dari kursi sambil menekan kedua tanganku di meja.

Kali ini kulihat si carok itu yang gelagapan, dia kesulitan memilih kata-kata dan aku tiba-tiba merasa menang, walau..rasanya air mata ku hampir jatuh dipelupuk mata.

“Aku..aku….akhh..”, dia hanya bergumam tidak jelas,dan ini kesempatanku untuk membuatnya K.O!

“Huh!!..mangkanya..kalau mau marah difikir dulu apa keperluannya, memangnya semua cewek bisa kau taklukkan apa?, maaf aku masih banyak kerjaan!” jawabku seketus-ketusnya sambil membalikkan tubuhku ke arah pintu.

“Tunggu!!”, tiba-tiba dia menahan langkahku..dan aku merasakan cengkraman tangan yang sangat kokoh di lenganku.., belum sempat aku mengelak, dengan kuat dia membalikkan tubuhku.

“Siapa yang mau menaklukanmu?..apa maksudmu..?” tanyanya sambil menatap mataku tajam.

Kali ini aku benar-benar gentar, tiba-tiba meleleh aliran sungai dari bola mataku..dan aku tidak sanggup lagi berkata-kata.

“Sarahh..apa yang kau pikirkan tentang aku?”…. Kali ini nadanya sedikit menurun, dan cengkraman tangannya pun melonggar.

Tapi aku tetap saja tidak mampu bicara, apalagi kurasakan aku dan dia begitu dekat, sehingga aroma Equipage yang selalu dipakainya terasa kuat tercium menyumbat kepalaku. Dan…tiba-tiba..kurasakan hembusan nafasnya mendekati wajahku……

“Akhh!! Lepaskan!..aku harus pergi!” Tiba-tiba kesadaranku pulih dari biusan aroma nya, sekuat tenaga aku hentakkan tangannya dan berlari meninggalkan ruang sekretariat yang sepi itu. Aku tidak tahu..apa yang aku bicarakan tadi, segala macam rasa bercampur baur didadaku..

…..Dan aku pun tidak tahu..bahwa bola mata elang itu..terus menatapku sampai tubuhku menghilang..dan aku pun tidak tahu..bola mata elang itu pun nanar menahan telaga bening di pelupuknya…

Hatiku terasa bergolak hebat, sekuat tenaga kutahan air mata ku..

“Ya Tuhan…kuakui perasaan itu telah hadir di dalam hatiku, begitu hebat sehingga aku tidak kuat untuk menahannya..dan hari ini hampir saja aku runtuh walau aku sendiri tidak yakin apa yang dia rasakan. Tapii..benarkah dia kangen padaku??…anehh….”,gumamku tak habis pikir.

Rasanya tak mungkin aku meneruskan tugas-tugasku, lagi pula cuaca mendung semakin menghitam, segera kubenahi jurnal-jurnal yang berserakan di meja dan segera ku shut down komputer lab tuaku yang sedari tadi rupanya lupa kumatikan.

Namun tiba-tiba….PLARR!!!…. petir menyambar dan menggetarkan kaca-kaca jendela disekitarku..aku sampai terlonjak kaget, namun aku tetap bertekad untuk pulang.

Aku berlari menyusuri lorong-lorong kampus, sambil berusaha menutupi kepalaku dengan jaket parasutku..dari limpahan hujan yang deras, dan seolah-olah ingin menandingi suara gemuruh ombak yang kuat dari dalam dadaku.

Aku terus berlari melewati gerbang kampus…hingga terdengar suara roda yang mencicitt..karena di rem tiba-tiba…….

”BRAK!!!”…..Tahu-tahu sebuah motor bebek terlempar beberapa meter ke trotoar pinggir jalan, setelah tercium oleh moncong angkutan kota yang melaju kencang dan tidak berpenumpang…

“Edan!!..maneh teh lolong sugan?? Puas.. siahhh!” sumpah serapah terdengar dari mulut supir angkutan kota itu..dan selanjutnya langsung tancap gas meninggalkan penumpang motor yang tergeletak tak berdaya itu, tanpa perasaan.

“Akkhh…ya Alloh…….Astagfirullahhhh..……Allaahu Akbar…toolloonngg…..”, suara yang sangat lemah diantara derasnya hujan sayup-sayup terucap dari bibir sang pengendara motor itu….Tangannya berusaha menggapai kakiku yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari tubuhnya yang bersimbah darah…

Aku mundur selangkah..dua langkah..pemandangan ini terlalu mengerikan untukku.., genangan berwarna merah…dari belakang kepalanya melebar mengenai sepatu kets ku….,tiba-tiba..rasa ketakutan yang sangat hebat menyerang dadaku…aku tak sanggup berbuat apapun..melihat tubuhnya..yang berkelojotan..beberapa kali lalu diam..tak bergerak…

Mata ku nanar..kepalaku serasa berputar,..akhirnya..pertahananku bobol dan terasa ringan melayang terhempas bersama derasnya air hujan ke jalanan aspal yang keras dan dingin….Namunnn….sempat kurasakan sepasang tangan yang kokoh menyambar tubuhku…walau tetap saja tak mampu menahan beban tubuhku…,tapi aku tak tahu…tangan siapa kah itu….

……………………..

Part 3 :

“…..Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam syurga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenagan dunia yang memperdayakan…” Qs.Ali Imron:185

……………..

Demikian sebagian ayat yang kudengar dari untaian doa yang dibacakan oleh Ustadz yang memimpin penguburan jenazah..Ibrahim Alaudin, mahasiswa semester terakhir jurusan Teknik Pertambangan

“Dan kini aku terpekur di hadapan pusaramu…aku tidak mengenalmu..namun karena diriku kau harus pergi secepat ini…”, gumamku lirih..sambil menatap nanar gundukan tanah merah itu. Ahkk..seandainyaa..aku tidak muncul dengan tergesa-gesa dari gerbang kampus saat itu…mungkin dia tidak harus menghindariku dan akhirnya tertabrak sopir angkot tak bertanggung jawab itu. Walau..kudengar dari beberapa teman bahwa polisi sudah menangkap sopir angkot yang ternyata dalam keadaan mabuk dan dianggap sebagai penyebab malapetaka kemarin sore itu,..namun tetap saja aku merasa bersalah..

“..Mbak Siti..,, ayo kita pulang..”,tiba-tiba kudengar seseorang mengajakku..

“Eh..Dik Ningrum, duluan saja..saya masih mau disini..”,jawabku lirih sambil menyembunyikan kedua bola mataku yang telah basah.

“Tapi mbak..ini sudah sore..gerimis lagi, lebih baik mbak ikut saya saja. Kontrakkan saya tidak jauh dari sini, ya mbak…”, Ningrum terdengar sedikit memaksa sambil menggamit lenganku. Akhirnya aku mengalah..lagipula..tubuhku terasa letih, kepalaku penat karena..rasa-rasanya sedikitpun aku belum tidur sejak kejadian itu.

Kini diriku terbaring lemah di ranjang mungil milik Ningrum, sebenarnya…aku merasa canggung karena..baru kali ini aku mengunjungi kontrakkannya, namun keletihan yang amat sangat membuatku menjadi tak berdaya..

“….Dik Ningrum…apakah kau mengenal Ibrahim?…”Tanyaku memecah keheningan.

“…Hhmm..tentu mbakk..dia sangat baik..kebetulan terakhir..dia kembali membantu kami di Masjid kampus untuk mempersiapkan kegiatan Ramadhan..”,jawab Ningrum sambil menghela nafas dalam-dalam.

“..Berarti dia dulu aktif di Masjid kampus kita ya…?” Aku semakin tercekat dengan kenyataan itu..

“Yahh..begitulah..dan pada hari itu, dia baru saja mengurus surat-surat perijinan dari MUI karena..ada beberapa kegiatan yang akan menggunakan fasilitas mereka”..,jawab Ningrum sambil menyerahkan segelas teh panas padaku.

“ Oya maaf mbak, saya tadiii..agak kaget melihat mbak ada di pemakaman, mbak mengenal dia juga?…” Tiba-tiba Ningrum menanyakan keberadaanku di pemakaman itu. Wajar saja dia heran karena kehadiranku di antara para aktivis masjid kampus sangat bisa dihitung oleh jari.

“…Akhh…ini semua salahku..,aku benar-benar ceroboh..”, aku tak mampu menjawab pertanyaannya, pertahananku akhirnya bobol..aku menangis sesunggukan, membuat Ningrum kebingungan… namun akhirnya dengan terbata-bata aku ceritakan kejadian sore itu..namun tetap saja aku tidak berani mengatakan alasan keteledoranku..

“Ohh.., jadi yang dimaksud kang Ahmad, ketika dia menolong seseorang yang tergeletak pingsan disamping tubuh kak Ibrahim itu..adalah..mbak Siti???” Tiba-tiba Ningrum sedikit terpekik, kelihatannya dia tidak percaya bahwa akulah saksi dari kejadian tragis itu..

“Betul..itu aku, akh….aku malah tidak tahu kalau yang membawaku ke kantor Satpam adalah kang Ahmad..”, aku pun sedikit terkejut, sebab..seingatku setelah aku sadar, seorang Satpam kampus mengantarku pulang dengan motornya.

“…Yahh..itulah takdir mbak..kita tidak pernah tahu kapan, dimana dan bagaimana kita akan mati…, jadii..mbak jangan merasa bersalah seperti ini. Tentu ada alasannya kan kenapa mbak tergesa-gesa seperti itu…”, Ningrum berusaha menenangkan ku..sambil mengelus-ngelus jemariku.

..Akkhh..andai dia tahu alasannnya…tentu dia tak akan pernah memaafkan aku..

“Sudahlah mbak, yang terpenting adalah..setelah ini kita semakin mendekatkan diri pada Allah SWT. Dan kita pun akhirnya akan mati..kita berdoa saja semoga kita berakhir Khusnul khotimah……insyaAllah seperti Kak Ibrahim..”, ujar Ningrum tanpa bermaksud mengguruiku, dengan nada yang dalam..seolah-olah..ikut merasakan kesedihanku.., dan kulihat dia pun menangis..

“Dik Ningrum……aku takut sekali mati,….. aku tidak tahu bagaimana jika aku mati tidak dalam keadaan yang baik…, hidupku penuh dengan kemunafikan, hura-hura dan..keinginan untuk senantiasa mengejar kesenangan dunia saja. Hidupku hanya untuk makan, tidur, beraktivitas untuk mencari kepuasan dan jati diri , belajarpun..semata-mata untuk mengejar gengsi jika ketinggalan oleh teman.., jika aku menang atau berhasil..aku selalu merasa itu akibat kehebatanku, jika aku gagal..aku selalu mengumpat dan tidak pernah berintropeksi diri…”, ujarku sambil tanpa sadar memeluk tubuhnya yang mungil erat-erat.

Dik Ningrum..balik memelukku dengan erat, kurasakan..didalam dekapan adik angkatan ku ini..aku menjadi seperti seorang anak kecil yang tidak berdaya, kurasakan gemuruh keras di dadanya..dan kurasakan..pundakku pun sampai basah oleh air matanya.

“….Subhalanallah..Mbak Sitiii…, saya tidak mengira jika kepergian kak Ibrahim ini akan menggugah perasaan Mbak Siti sedalam ini, padahal mbak sama sekali tidak mengenal dia. Mudah-mudahan..Allah SWT memberikan hikmah dibalik semua ini..untukMbak Siti..dan saya juga…”, sambil sesunggukan Ningrum kembali mencoba menenangkan diriku,

Aminn…”, jawabku lirih..dan selanjutnya..Ningrum beranjak dan mengambil sebuah catatan kecil di meja belajarnya..

“Mbak..saya bacakan sebuah hadits ya…mudah-mudahan..ini akan memotivasi diri kita untuk kembali ke fitrah..”, ujar Ningrum sambil membuka catatannya,..aku pun segera beringsut dari tempat tidur, dan duduk dihadapannya di atas hamparan sebuah tikar pandan.

“……..Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Apabila seseorang dari kamu berada dalam keadaan tasyahhud, maka hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara dengan berdoa: Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon perlindungan kepadaMu dari siksaan Neraka Jahannam, dari siksa Kubur, dari fitnah semasa hidup dan selepas mati serta dari kejahatan fitnah Dajjal……”

Usai Ningrum membacakan hadits itu..aku terpekur…menerawang..membayangkan kilasan episode hidupku..mungkinkah ya Allah..aku bisa mengambil hikmah dibalik semua ini??….

Allahu Akbar..Allaahu..Akbar…..”, tiba-tiba gema takbir memecah lamunanku..

“Mbak..adzan maghrib tuh.., sholat bareng yuk..”, ajak Ningrum sambil menepuk lenganku pelan.

“Eh..oh..ayo, tapii…saya tidak bawa mukena?…” Ujarku polos..yah..memang mana pernah aku pergi-pergi membawa mukena, selama ini..jika aku pergi pagi, maka dzuhur ku akan ku jama dengan Ashar ketika pulang, demikian pula..maghrib dan Isya..jika aku pergi sore sampai malam.

Its okay..nih ada mukena saya, biar saya pakai jubah saja..,eit lupaa…dari pemakaman sebaiknya kan kita ganti pakaian dulu.., mbak pakai baju saya ya..sekalian nginap disini pokoknya!!” Ajak Ningrum ceria sambil mengusap air matanya dengan ujung jilbabnya.

“Tetett..tapiii…”,aku sedikit ragu dengan tawarannya,…..

Ningrum langsung menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memasang muka merajuk lucu.., dan menggamit tanganku ke arah lemari pakaiannya.

Akh..mana mungkin aku menolak..ajakannya yang sedemikian terdengar hangat dan tulus padaku..Ningrum..Ningrum..sepertinya aku sudah mengenalmu seribu tahun lamanya.., aku pun terpana memandang dirinya…

Dan..hari ini aku benar-benar merasakan Sholat yang khusuk untuk pertama kalinya dalam hidupku..Walau aku tidak mengerti surat atau do’a apa saja yang dibacakan oleh Ningrum, tapi aku bisa merasakan betul..makna yang terkandung didalamnya…, getaran suara Dik Ningrum benar-benar membuatku tersungkur dihadapanNya..,

”Ya Allah…beri aku kesempatan seribu kali lagi…….sebelum aku benar-benar merasakan mati..”, gumamku lirih..

Dan Dik Ningrum akhirnya mensudahi do’a nya yang panjang lalu menggenggam tanganku..selanjutnya mencium pipiku kiri dan kanan…

“Terimakasih mbak…saya pun sudah lama tidak pernah sholat dan berdo’a se nikmat ini…”, ucapnya pelan, membuatku sedikit terkejut…tidak percaya..namun sepertinya Ningrum membaca keherananku..

“Jangan memandang seperti itu doongg…, mungkin yang mbak tahu..saya rajin ke pengajian, ngurus kegiatan rohani kemahasiswaan, masjid.., tapi…belum tentu ketika sholat saya ikut hadir didalamya…, belum tentu ketika sholat..seluruh panca indera saya fokus pada sang Khalik, sehingga..hasil sholat itu pun akhirnya..tidak berbekas pada diri saya selain rasa tenang karena sudah melakukan kewajiban rutinitas belaka ”…ujar Ningrum panjang lebar.

Aku pun terangguk-angguk mendengarnya. “Ningrum saja bisa merasakan seperti itu, lalu bagaimana dengan sholat ku selama ini..?”…..

“Ahkk…..malu benar rasanya..,mudah-mudahan….tidak ada kata terlambat untuk memperbaikinya lagi!!” gumamku mantap.

Selesai

Posted by: lindeukjapati | January 11, 2008

Upacara kematian

Berikut ini adalah pengalaman istri (Nining) ketika menghadiri upacara kematian salah satu teman SD anak kami (Shafira). Saya copy-paste dari emailnya yg dikirim ke milis taman quran.

Assalamu alaikum wr wb,

Temen2, mudah2an pengalaman pertama saya menghadiri acara ososhiki atau ceremony kematian di Jepang, bisa menjadi sedikit gambaran kalau suatu saat harus menghadiri acara yang sama. Jadi mohon maaf akhirnya dongeng saya semalem bersambung..

Pada hari Minggu, temen kaka sekelas waktu kelas 2 meninggal. Katanya semacam kanker di kepala.
Sampai hari selasa, saya masih penasaran yang mana anaknya, seklaipun kaka sudha memberi gambaran.

Hari senin jenazah masih di rumah sakit. Pihak keluarganya mengurus berbagai hal, termasuk gedung ceremony mana yang akan dipakai. Di Nonami ada 2. Sebrang nya exit 3, dan dekat Kentucky Fried Chicken. Dari juutaku jalan kaki, akhirnya diputuskan yg dekat kentucky.

Saat hari minggu itu, semua guru secara maraton menelpon semua ortu kelas 3. Krn anak yang meninggal itu saat ichi gakki, sempat masuk sekolah. Dan PTA pun segera membentuk panitia.

Selasa sore, mulai acara penyambutan jenazah di gedung. Banyak yang hadir mulai jam 6 – 7 malam. Anak2 sekalian berlatih nyanyian terakhir. Kaka juga datang, saya nggak bisa.

Rabu, jam 10 lebih. Saya udah berusaha nyiapin baju serba hitam. Tapi kaus kaki hitam dan kerudung hitam nggak ketemu. Ahirnya selain kerudung dan kaos kaki, yg lain serba hitam. Saya pikir, mungkin ini salah satu cara menghargai budaya orang Jepang, dan Alhamdulillah selama warna yg dipakai netral ternyata sah saja. Yang taihen Kaka dan Kirei. Akhirnya kaka berblazer putih, celana coklat, Kirei kebetulan ada sweater, dan stocking hitam.

Ketika memasuki gedung, sayup2 terdengar lagu koor anak2 dari speaker, bener2 bagus deh suara anak2. diiringi dentingan piano. Ternyata itu hasil rekaman kemarin nya. Saat itu bene2 saya perhatikan, semua berpakaian hitam, stocking hitam dan ber tas hitam. Dan PTA yang menjadi panitia, semua jelas2 berseragam hitam, dan memakai kalung mutiara, demikian juga wakasek, Sakurai sensei.

Semua tamu menuliskan nama, dan asal dari Naganedai shougakkou. lalu menyerahkan amplop pada panitia, lalu baris menuju kursi. Kaka duduk di dekat jenazah, krn semua yg pernah menjadi classmate di duduk kan di depan.

Aroma bunga sangat lembut, dan banyak sekali, dekorasinya indah dan semua duduk dikursi menghadap peti jenazah. Saya udah gak tahan ingin melihat wajahnya, akhirnya ditemani Ito san, saya dipersilahkan memandangnya.

Astagfirullohal adziim..
Ternyata, Keiko chan yang ini??… kulitnya kuning langsat, halisnya hitam lebat, bulu matanya hitam panjang dan menggunakan lipstik pink muda, cantiikkk banget. Dan seperti tidur aja, bener2 nggak pucet seprti yg saya bayangkan.

Saya ingat, anak ini pendiam, kalau main dengan Kaka hanya senyum kalo saya tanya. Dan sopan, selalu membungkukkan badan kalau ketemu di Jalan. Duhh…udah deh broll aer mata langsung banjir.

Pas duduk, aer mata nggak berhenti, kebayang terus cantiknya anak itu, dan saya ingat ketika pertama ketemu, ni anakkk…kontras banget warna kulit dan rambutnya yang hitam pekat. Palagi liat fotonya yg besar terpampang sambil ciisss…mengacungk an 2 jari tanda perdamaian. Kawai banget. aroma dupa yang saya bayangkan bakal mendominasi ruangan, sama sekali nggak tercium, yang ada hanya wangi bunga dan alunan lembut koor teman2nya. Pokoknya khitmat banget jadi yang srak sruk nangis pada kedengeran, kalo saya alhamdulillah krn idung emang lagi mampet, jadi gak bunyi walo akhirnya jadi susah napas.

Akhirnya acara dibuka. Pendeta nya orang Jepang memasuki ruangan dan mulai semua mendengungkan semacam puji2an sambil memegang semacam tasbeh dan melipat dua tangan tanda berdoa. Kalo saya karena memangku Kirei, hanya mendengarkan saja, yah sambil berdoa dalam hati, semoga anak ini mendapatkan tempt terbaik disisi Alloh SWT.,Aminn.. ,

Oya, saya liat okasan nya ber kimono hitam. Cantik dan anggun. Lalu Kakak laki2 Keiko chan, yang dah besar dan yg kelas 5. Sepertinya mereka udah pasrah dan rela dg kepergian Keiko chan. mungkin krn mereka mengurus sakitnya cukup lama, diselingi beberapa kali datang ke sekolah. Mulai sakitnya Desember tahun lalu, jadi sekitar setahun an sd saat ini.

Setelah pendeta, membunyikan semacam gong kecil, semua bergantian maju menaburkan dupa. Nah bagian saya diminta maju, saya bingung. Wah digimanain yah?..akhirnya saya liat dulu orang lain. ohh..ternyata caranya. Badan membungkuk, ambil secuil dupa, taburkan ke semacam lilin kecil sd berasap, lalu berdoa dan balik ke kursi. Nah…krn saya berbeda keyakinan, saya hanya mencuil dupanya lalu saya taburkan ke lilim lalu kembali ke kursi.

Dan moment yang paling sedih adalah, ketika MC memanggil classmate Keiko chan. Untuk bernyanyi, sambil diselingi membaca otegami terakhir untuk Keiko chan..(petikan di bawah ini mungkin nggak sepenuhnya bener penulisannya, tapi krn td saya berusaha resapin bener ingin ngerti isi lagu dan otegaminya, yah..ini aja yg mungkin teringat..)

Keiko chan..
kyou wakareru toki ni..
akaruina koto…asobitari. .benkyoushitari. .wasurenai ne…

Keiko chan no daisuki na mono..
kurasu no naka ni itsu made mo mamorou..
Keiko chan..
hiroi sora ni ogenki de ne, shiawase ne……

Duhh…udah deh, smua ortu udah srak srik sruk nangis. Dan akhirnya setalah 2 lagu diiringi piano sensei selesai. Smua berbaris keluar. Menerima bingkisan berisi sekotak gimucha, otegami ucapan terimakasih dan garam.

Sampai di lantai 1, kita semua menonton dari 3 TV besar perpisahan terakhir keluarga Keiko chan dg nya. Semua membelai wajah Keiko, semua keliatan memberikan ucapan terakhir, dan giliran kaka laki2nya yg kelas 5, dia langsung ambruk. Mungkin baru menyadari sebentar lagi adiknya akan menjalani upacara pembakaran. Utk Nagoya katanya hanya di Yagoto tempat yg terdekatnya.

Dan semua rangkaian bunga dibongkar. dimasukkan ke dalam peti. Okashan nya nampak mengusap2 pipi nya, membenahi rambut dan bajunya, duhh…semua jelas terlihat dari Kamera di atas peti.

Akhirnya peti jenazah turun dg lift ke lantai 1. Anak2 kembali koor yg kira2 berisikan lagu perpisahan, kali ini semua anak nyanyi sambil nangis, dan sensei nya mah udah serek banget nggak kedengeran suaranya. KEtika mobil bergerak, sayonara…sayonara keiko channn…. semua anak melambaikan tangan, dan saya sendiri udah mulai pening nih kepala, saputangan mah udah jibrek basah.

Menurut Ito san, setelah jenazah dibakar. Debunya akan dimasukkan
kedalam kotak/ semacam kendi dari bahan keramik atau logam. Utk
beberapa hari dibawa ke rumah dan kemudian dikembalikan ke pemakaman
tergantung di daerah mana yg dinginkan, kebanyakan mah ke desa
leluhurnya katanya.

Akhirnya kita bubar pulang sambil membahas yang rata2 berisikan betapa cantik nya Keiko chan, betapa tabah okasan nya..

Yah…sekian dulu deh dongengnya. Sekarang mau beberes…dulu. .^-^

Udahan dulu yahh…punten pisan..kepanjangan,
Wassalamu alaikum wr wb
Nining

Posted by: lindeukjapati | June 18, 2007

Antar Jemput

Hari senin dan selasa ini (18-19 Juni) cuaca di Nagoya diperkirakan hujan dan mendung. Enaknya kalau tinggal di negara maju, perkembangan cuaca bisa dipantau terus melalui internet. Menurut pengalaman, prakiraan ini lebih banyak benernya.

Nah seperti biasa, saya kena giliran antar Kirei chan ke hoikuen. Sebenarnya males juga nganter karena gerimis agak gede tapi berhubung ada kaitannya dengan pelatihan supaya terbiasa ya…yos…gambare ngenjot sepeda dengan perlengkapan payung lengkap. Payah juga nantinya kalau dibiasakan gak pergi karena alasan ujan. Karena mulai Agustus nanti, saya sudah terikat kontrak postdoc sehingga harus pergi dari rumah jam 8 sehingga sampai kampus di bawah jam 10 pagi apapun keadaan cuacanya. Mudah-mudahan kami sekeluarga dapat menjalaninya dengan lancar. Amin.

Karena hujan juga, istriku bilang, “yang jemput ayah juga ya…kan muri (berabe) sambil bawa laptop trus jemput, gimana nanti kalau laptopnya keujanan?”. “Oke deh, Ayah yang jemput mumpung masih hima (waktu luang)”. Hari ini emang rada taihen nih, isi form (pesan tiket pesawat, jutaku, tunjangan susu), jemput kirei chan dan baito. Berarti pergi dari rumah jam 15.50 abis sholat ashar.  Okeh Bismillahirrahmanirrahim.……

Posted by: lindeukjapati | June 16, 2007

Tepang Taun Iteung-Kabayan

Tanggal 9 Juni 2007 teh tepat 11 taun si Kabayan ngucapkan ijab kabul nikah jeung si Iteung. Kahayang mah jang nginget2 sajarah eta teh, kuring hayang ngajak si Iteung jalan2 puputeuran Nagoya tuluy wae moro kare di Fujigaoka. Tapi kumaha rancana tinggal rancana, tanggal 9 Juni meuneuran poe saptu kuring aya jadwal baito jeung hujan girimis deuih. Jadi wae poe istimewa jang kuring dua-an teh “berlalu begitu sajah”. Teu nanaon, Insya Alloh engke poe minggu urang jadikeun moro kare di Fujigaoka tuluy urang balanja oleh2. Aya sababaraha oleh2 nu kudu dibeuli, maklum kaluarga kuring kaluarga gede. Insya Alloh tanggal 7 Juli kuring rek mulang heula ka Bandung.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.