Posted by: lindeukjapati | March 11, 2008

O Namae wa?

O Namae wa ?

“Hallo..hallo.. ini Ipin? Gimana besok siap mobilnya?” tanya Abah pada adiknya, melalui telepon genggam.

“Ya..ya..jangan lupa, habis Dzuhur sudah di sini ya. Oya,Esih, Yuyun sama Sarpan, jadi ikut nganter enggak, Pin?”.

“Ya sudah, jadi semua lima mobil ya? Jangan lupa ya.. pake baju yang bener gitu, malu nanti sama teman-teman si Eneng yang dari kota lain,” ujar Abah sambil menutup telepon genggamnya.

Tiba-tiba´…”Bah!, itu si Eneng kok ngerem terus di kamar, enggak mau keluar, padahal Haji Imron mau ketemu tuh,” tahu-tahu Lia, salah satu keponakan Abah sudah berdiri di sampingnya.

“Lho kenapa? Sudah di ketuk pintu kamarnya?” tanya Ibu Danu yang kebetulan sedang ngobrol dengan bu Lurah di samping Abah.

“Wah..Lia sampe pegel Bu, coba deh sama Abah dan Ibu, mungkin Eneng mau keluar. Haji Imron kayaknya pingin ketemu banget, enggak tahu tuh jangan-jangan si Eneng pulang dari Jepang mau di jodohin sama kang Asep, anaknya yang calon insinyur itu”.

“Hush! Asal ngomong aja kamu! Ya sudah bu, ayo kita lihat ada apa dengan si Eneng?”.

“Eh..eh..ayo, aduh..maaf bu Lurah ditinggal dulu ya,” pamit Ibu pada bu Lurah yang nampak masih ingin ngobrol banyak dengan sang tuan rumah yang saat itu sedang mengadakan syukuran menjelang keberangkatan putrinya ke Jepang

´´´´

“Lho… Eneng, kok bajunya masih belum dimasukkan ke koper ? Terus ini buku-buku juga mana yang mau dibawa? Kan lusa berangkatnya.

“Ahh´ Eneng malas berangkat Bu!” ujar Eneng spontan

“Lho´memang kenapa? Orang lain sih malah pingin ke luar negri, eh´ini malah malas, coba cerita sama Abah dan Ibu, apa yang jadi pikiran?” tahu-tahu Abah sudah ikut nongol di pintu kamar Eneng.

“Ahh..ini semua gara-gara Aki!”

“Lho..kok si Aki dibawa-bawa, memangnya si Aki pingin ikut Neng?” tanya Abah sekenanya.

“Bukan Bahhhh…itu lho, Eneng kesal karena Aki ngasih nama ke Eneng enggak pake perhitungan. Coba dong bayangkan kalau nanti berkenalan sama teman-teman lain di Bandara apalagi di Jepang, kan Eneng jadi maluuu. Ini juga udah sering di godain sama temen- temen se Margahayu!”.

“Ya ampun, itu toh masalahnya? ..hahah´ kan si Aki mah ngasih nama pasti punya maksud, justru dengan perhitungan lho Neng?” ujar Abah geli.

“Artinya kan bagus Neng, walau pun berasal dari Desa, Eneng tidak mudah didekati karena Eneng berpendidikan. Begitu kan?”.

“Ahk Ibu, itu dia, kok kepikiran coba kasih Eneng nama dengan pertimbangan seperti itu. Memangnya Eneng burung merpati apa?”.

“Ahh..sudahlah! yang penting orang Jepang kan tidak tahu arti nama Eneng, lagi pula mereka kan mengejanya akan berbeda dengan kita, bener kan Bah?”.

“Iya, sekarang keluar sana. Haji Imron udah nunggu, Eneng mau dijodohin kali sama si Asep hehe,” goda Abah yang langsung disambut cubitan ibu supaya diam.

“Heuhhh´Asep lagi´ Asep lagi.., padahal mah Eneng sudah nolak sampe tujuh kali, teteepppp aja keukeuh!” Eneng dengan malas beranjak keluar kamarnya, di ikuti Abah dan Ibu yang nampak tersenyum lega karena upaya mereka berhasil membujuk putri semata wayangnya yang memang sering merajuk mengenai permasalahan namanya itu.

´´´

Singkat cerita´ Tiba juga saatnya, Eneng berangkat ke Bandara diantar iring-iringan mobil yang cukup panjang. Sekilas sih´seperti orang yang akan mengantar Haji. 

“Pin, ingat ya´ketika sampai di Bandara, semua memanggil si Eneng ‘Linda’, ngerti?” Abah berkali-kali mengingatkan mang Ipin adiknya yang menyetir mobil di belakang mobil Abah, melalui telepon genggam.

“Sip lah Kang!, semua sudah di kasih tahu, tapiii´kalo si Aki mah enggak janji deh, kan sudah pikun”.

“Ya udah..biarlah si Aki mah, enggak usah terlalu dipikirkan. Nah..jangan lupa semua turun di termisal D, bagian keberangkatan ke luar negeri ya Pin!”          

 “Okeh´okeh´beres lah kang!” jawab mang Ipin yang gemas dengan kecerewetan kakaknya.

Sementara Eneng, nampak nervous, ketika mobil sudah memasuki pelataran parkir Bandara Soekarno Hatta yang baru kedua kalinya ini dikunjungi, setelah dulu mengantar Abah dan Ibu naik Haji. Disatu sisi Eneng merasa bangga karena bisa mendapatkan beasiswa satu tahun ke Jepang, dari Youth Exchange Studies, Japan Foundation dan Year Program. Tapi disisi lain, rasa takut sulit beradaptasi ditambah lagi persoalan namanya yang sering membuatnya malu karena terdengar aneh, membuatnya deg-deg kan tidak karuan saat ini.

“Bah!´awas kelewat, tuh di depan terminal D!” teriak Eneng yang tersadar dari lamunannya

“Iya..dari tadi juga Abah sudah tahu,” jawab Abah sambil memutar stir mobil ke jalur kiri.

“Sarpan, jangan lupa koper-koper Eneng di belakang segera turunkan ya,” pinta Ibu pada adiknya yang sejak dari Bandung ke Jakarta duduk menekuk di jok belakang dihimpit tiga buah koper dan satu dus oleh-oleh.

“Duuhhh´Teteh, ini kaki kesemutan semua susah bergerak, gimana dong?” keluh mang Sarpan sambil meringis.

“Ahh´kan dari tadi juga dibilangin enggak usah ikut, penuh! ehh´maksa juga”.

“Ehh..kan saya mah sudah daftar dari sebulan yang lalu, itu tuhh´Wa Yetti sama Wa Dudung tiba-tiba nyerobot naek mobil si Ipin!” jawab mang Sarpan sewot.

“Husshh! Sudah-sudah jangan ribut, nih udah sampe. Cepetan Pan, buka pintu belakang!” perintah Abah dengan gusar, membuat mang Sarpan berteriak kesakitan karena kakinya tiba-tiba terjepit dus oleh-oleh ketika Abah nge rem mobil dengan keras.

“Adduhhh´ini apa sih Teh isinya, kok berat sekali kelihatannya?”

“Udah jangan banyak protes, itu isinya Ulen, kicimpring, goreng Nila sama Leupeut!”

“Appaaa?, aduh´ibu, nanti timbangannya bakal gede atuh, bisa sampe sejuta bayarnya!!”

“Alaah´sejuta mah ada Neng!, ini sudah ibu siapkan!” jawab Ibu santai sambil menepuk tas tentengnya yang memang nampak menggelembung.

Akhirnya Eneng memilih diam sambil cemberut habis, mau protes juga percuma kalau Ibu sudah memutuskan biasanya sulit untuk di bantah.Apalagi ini sudah sampai di teras Terminal D, tempat dia harus berkumpul dengan sekitar dua puluh orang teman-teman lainnya nanti, yang satu pun belum pernah dikenalnya.

´´´´..

Begitu menginjakkan kakinya di teras terminal D, Eneng langsung mencari rombongan yang bakal berangkat bersamanya ke Bandara Kansai di Osaka. Berbekal selembar surat panggilan resmi dari pihak Japan Fondation, Eneng akhirnya mendapati seorang pria Jepang yang kemungkinan perwakilan di Indonesia dari JF sedang mengabsen beberapa orang sebaya Eneng yang bergerombol di depannya.

“Santi Purisanti ?”

Haik!” jawab seorang gadis berpenampilan modis sambil mengangkat tangannya

“Kemudian´Rinnn´, ini apa, Rindeu..?” nampak sekali sang pengabsen terdengar ragu dengan nama yang dibacanya, apalagi dengan lafal Jepangnya yang sulit membaca huruf ‘L’.

“Eh´maaf, ittuuu´”, Eneng nampak ragu untuk mengakui namanya sambil mendekati pengabsen yang rupanya pemimpin dari rombongan itu.

O nama e wa?” tanya lelaki itu begitu didekati Eneng

“Eh..saya´enggg´,” Eneng semmakin ragu menyebut namanya.

Nihon go de onegaishimasu,”pinta lelaki itu mengingatkan Eneng untuk berlatih bahasa Jepang.

“Ehh´Eneng´eh, Linda´desu,” jawab Eneng menyebut singkatan namanya dengan suara tertahan, sambil menghapal sekilas nama si lelaki itu yang tertempel di dadanya, Yamasashi.

“Oya? Tetapi disini tidak ada nama Rinda,” ujarnya sedikit bingung dengan bahasa Indonesia yang terpatah-patah.

“Eng…sebenarnya, Lindeuk Djapati desu Eneng sedikit terpancing alias kesal dengan keheranan si Yamasashi-san itu.

“Akh, ada’ada… Rindeuke Dijapati ya?, omoshiroi..” ujar si ketua rombongan itu sambil tersenyum lucu. Bukan karena dia tahu artinya, tetapi karena nama itu terdengar aneh dan sulit baginya.

“Ihh..sebel!” gumam Eneng sambil cemberut. Apalagi terdengar beberapa orang diantara rombongan itu tertawa cekikikan.

Haik!, karena waktu kita tidak banyak, silahkan jika masih ada yang ingin dilakukan, saya beri waktu lima belas menit, setelah itu ikimashou!” teriak Yamasashi-san melalui megaphone mungilnya. Serentak rombongan tersebut bubar. Ada yang mencari keluarga pengantarnya, ada yang ke toilet, ada yang menuju boks telepon, sampai tersisa seorang cowok berkacamata tebal berdiri sendirian sambil mendekap tas ranselnya dan satu tangannya lagi menjinjing travel bag besar, nampak kebingungan hendak melakukan apa. Sebenarnya Eneng ingin menyapa cowok itu, tetapi niat itu ia urungkan, karena dari kejauhan nampak keluarga besarnya sudah melambai-lambaikan tangan memintanya mendekat kesana.

“Nengg, ibu sedih sekali rasanya, neng jangan lupa sholat, puasa senin-kamis dan buat surat ya,” sambut Ibu secara spontan sambil sesunggukan dipelukan Eneng      

“Iya..Neng, pokoknya jangan terpengaruh sama budaya yang enggak bener yah, jangan bikin malu Abah!” tambah Abah sambil menahan air mata nya.

Lindeuk! Cucu Akiii…,”tiba-tiba Aki meraih lengan Eneng.

“Ki! Psstt…bukan Lindeuk, tapi Linda!” mang Ipin mencoba mengingatkan.

“Ahkk…Linda’ Linda! Enak saja mengganti nama orang?” Aki malah menepis lengan mang Ipin dengan kesal. Akhirnya mang Ipin mengalah, sambil melirik Abah yang nampak khawatir si Eneng bakal ngambek.

Lindeuk,awas ya..disana jangan pacaran. Walau Eneng itu bernama Lindeuk Djapati, tetapi Eneng harus tetap punya harga diri, ngerti?” pesan Aki dengan parau.   

“Iya Ki, insyaAlloh doa in aja ya, supaya Eneng selamet di sana,” jawab Eneng yang tiba-tiba merasa berat juga berpisah dengan Kakeknya yang cerewet namun sangat memanjakannya itu.

“Neng, jangan lupa titipan bibi, lipstik Kose tea“, pesan bi Esih,istri mang Ipin.

“Ehh´sepatu boot kulit yang warna putih, nomer empat puluh ya neng´.” Bi Yuyun, istri mang Sarpan tidak mau ketinggalan mengingatkan Eneng akan pesanannya.

“Ya ampun…coba ya, bukannya mendoa kan supaya Eneng sukses dan selamet di Jepang, malah sibuk nitip oleh-oleh!” mang Sarpan sedikit kesal dengan kebawelan para ibu-ibu muda itu.

“Memangnya´mang Sarpan nggak nitip oleh-oleh?” pancing mang Ipin menyindir.

“Ahh´saya mah tidak usah lah. Tapi kalo Eneng enggak repot mah´itu saja ´kamera yang ada tipinya alias digital kamera tea hehehe´,” ujar mang Sarpan sembari mesem-mesem.

“Yeee´suka jual mahal si mamang mah!!. Hay-hay bari er-er´” cibir bi Esih pada saudara iparnya.

“Iyya´iyya´sudah ya, Eneng berangkat duluu´, itu sudah dipanggil lagi sama ketua rombongan. InsyaAlloh begitu sampe Eneng nelpon deehhh.” ujar Eneng sambil terburu-buru menciumi tangan dan pipi ibu-abah dan saudara lainnya, lalu berlari ke arah rombongan Yamasashi-san.

“Eiittt´lupa, bu maaf ah itu dusnya enggak usah dibawa berrraattttttt´!” teriak Eneng sambil menunjuk dus besar yang masih teronggok di pinggir jalan ketika turun dari mobil tadi.

Ya alloh´.Sarpan! kenapa itu dus tidak dinaikan ke roda bareng koper si Eneng?” Ibu nampak kaget menyadari dus itu tidak terangkut bersama koper-koper lain.       

“Duuhh´berat Teh, terus kata eneng enggak usah dibawa aja, ” jawab kang Sarpan polos.

Sementara Ibu nampak mengelus-ngelus dada melihat kebandelan Eneng dan mang Sarpan,adiknya.

“Tenang buu´.mungkin si Eneng merasa terlalu berat bawaannya. Ibu juga sih..memberi bekal sampe sebanyak itu. Ya sudah´nanti kita pos kan saja ya, kan alamat si Eneng sudah kita catat,” ujar Abah sambil mengelus punggung Ibu agar tidak kecewa.

“Ya sudah´mudah-mudahan uang ini cukup untuk biaya pos nya.Soalnya´si Eneng kan suka sekali sama goreng ikan Nila”.

“Kalau begitu´sekarang kita pulang saja, makin lama di sini malah makin sedih nih.” ajak Abah sambil menepuk bahu Ibu dan Aki diikuti oleh yang lainnya. Sesekali Ibu menoleh ke belakang, ke arah pintu masuk Ceck in, siapa tahu..Eneng muncul lagi memanggil dirinya.

Sementara Wa Yetti sama Wa Dudung suaminya, nampak sedang beradu bicara dibarisan belakang rombongan.

“Ada apa Wa?..kok ribut terus?” tanya Abah penasaran

“Ini´, Yetti ngambek melulu, tahu begini sih tidak usah ke salon dikebaya lengkap seperti ini katanya´,” ujar mang Dudung sambil menarik ujung kebaya brokat istrinya.

“Lho memang kenapa Wa Yetti?” kali ini Ibu yang penasaran.

“Ya..dikirain…kita nganter sampe pesawat,ehh´tahunya cuma sampe teras ajah!”, jawab Wa Yetti sambil cemberut.

“Hahaha..Wa Yetti, kalo dekat sekali sama pesawat mah, nanti sanggul Wa Yetti bisa hiber atuhh ´”, goda kang Ipin sambil tertawa keras.

“Ahh´dasar si Ipin! ngaheureuyan wae ka kolot teh!” sungut Wa Yetti, kakak sulung Ibu Danu itu, dengan kesal. Namun Abah, Ibu dan yang lainnya malah mentertawakan Wa Yetti. Sebab memang hari itu penampilan Wa Yetti paling ginding alias paling gaya. Seperti mau ke undangan di gedongan saja.

´´´´´..

Sementara itu, Eneng sudah berada di dalam badan pesawat JAL, kelas ekonomi. Suasana dalam pesawat sebelum take off, sangat ramai seperti pasar. Sungguh hal ini membuat Eneng sedikit grogi , maklumlah´Eneng merasa bukan remaja yang datang dari Kota besar.

Eng. .maaf?” tiba-tiba seseorang mohon pamit untuk duduk disamping Eneng.

“Eh´douzo,”jawab Eneng sambil menggeser kakinya. Dan sekilas Eneng melihat bahwa orang tersebut adalah cowok berkacamata tebal yang kelihatan menyendiri pada saat di bandara tadi.

Sampai lima menit lebih berlalu, tidak ada satu pun diantara Eneng dan si kacamata tebal itu yang mulai bicara. Padahal sedari tadi Eneng ingin mendapat teman ngobrol.

“Engg…SMA mana?” Akhirnya Eneng tak tahan juga untuk menegur. “Ehmm..SMA dua,” jawabnya singkat.

“Bandung ?” Eneng masih saja penasaran.

“Engg´Semarang,” jawab cowok itu dengan dialek jawa nya yang kental.

“Oohh´,”akhirnya Eneng menyerah untuk tidak bertanya lagi, sebab cowok itu kelihatan agak kaku dan tidak banyak bicara.

“Tadi banyak sekali yang mengantar, senang ya?” tiba-tiba cowok itu bicara lagi.

“Ehh..iya itu pun sudah dibatasi, kalau tidak sih bisa se kampung ingin ikut semua”.

“Saya sih ndak ada yang mengantar, Bapak dan Ibu sudah tua, jadi saya berangkat ke Jakarta sendirian. Jadi..ini pun yang dibawa baju dan buku-buku saja, ndak ada oleh-oleh untuk keluarga tempat saya homestay nanti,” ujar cowok itu panjang lebar

“Oleh-oleh? memang perlu ya?” Eneng sedikit kaget dengan cerita cowok itu.

“Lha..ya iya toh, mosok kita home stay  ndak kasih apa-apa sama tuan rumahnya?.. saya jadi bingung nih,heuuhh,” keluhnya.

“Aduhh´.kenapa oleh-oleh tadi saya tinggal ya?” kali ini Eneng benar-benar merasa menyesal. Padahal jika dia mau lebih menghargai upaya ibunya untuk membawa dus oleh-oleh yang berat itu, setidaknya dia bisa bagikan pada cowok itu juga nantinya.

Hening sejenak, cowok itu tenggelam dengan lamunannya..sementara Eneng masih menyesali kebandelannya.

“Ehh, ´O nama e wa?” tiba-tiba Eneng menyadari jika mereka belum berkenalan. “Enggkamu?”cowok itu balik nanya.

“Ehmm´Lnda desu!” jawab Eneng pe-de.

“Oh, saya...Inu desu,” jawab cowok itu lirih.

“Ee..Inu??, masa sihhh?” tanya Eneng sambil tertawa. Tetapi si cowok itu nampak merah padam mukanya.

“Ehh´gomenasaii, saya tidak bermaksud mentertawa kan,”sesal Eneng.

“Ahh..ndak apa-apa, itu sudah wajar, wong mau ke Jepang kok namanya Inu, payah,” jawab cowok itu eh´Inu dengan pasrah.

“Panjangannya apa?” tiba-tiba Eneng tertarik dengan nama cowok itu.

“Ehmm..Inu Setiawan,” jawabnya singkat.

“Ehhmm´Inu Setiawan, saya pikir cuek aja punya nama Inu juga. Nantii´kalo orang Jepang nanya artinya, bilang saja Inu yang setia kawan, pasti mereka akan senang. Kann´mereka rata-rata suka banget melihara Inu,”ujar Eneng berusaha membesarkan hati teman barunya itu.

“Ya itu dia, memangnya saya ini binatang piaraan apa?” jawab Inu sedikit kesal.

“Ahh´sudahlah cuek saja. Ehmm´nama saya juga aneh sihh´Lindeuk Djapati, artinya´ jinak-jinak Merpati. Saya singkat saja jadi Linda!hahaha…, Eneng geli sendiri dengan ide Abahnya yang akhirnya dia pikiri lucu itu.

“Haha´lucu juga nama nya, tapi kasihan orang Jepang nanti susah mengeja nya?” akhirnya cowok itu bisa tertawa juga.

“Iya´tadi juga kan si Yamasashi-san sampe belepotan nyebut nama saya, jadi Rindeuke Dijapati´heheh…”Eneng membayangkan bagaimana nanti orang-orang Jepang lainnya akan kesulitan mengeja namanya.

“Tadi nya saya sih ndak pernah mempersoalkan nama Inu, tetapi sejak tahu bahwa dalam bahasa Jepang Inu itu adalah Anjing, wahh´.sempet kalang kabut juga ingin ganti nama,” cerita Inu.

“Hahah´sama dong´” gelak Eneng yang tidak menyangka akan mendapati teman yang senasib dengannya.

“Tapi..kata Bapak saya dulu, beliau memang terinspirasi oleh kesetian sahabatnya yang bernama Ibnu pada saat Bapak ada masalah di kantornya. Kalau bukan karena pembelaannya, mungkin Bapak sudah dipenjara dituduh menggelapkan uang deposito nasabah.” Inu berusaha mengingat sejarah namanya itu.

“Wahh´pasti itu uang yang banyak ya?” tanya Eneng penasaran.

“Ya banyak dong. Walau saya sempat bingung, kok ngambilnya Inu saja, ndak Ibnu sekalian!” ujar Inu sambil cemberut.

“Hahah´mungkin jangan dilihat dari makna seekor anjingnya, tapi dari sifat kesetiaannya, itu akan membuat mu lebih pe-de, iya kan?” hibur Eneng.

“Ya sudah, kalo nanti ada yang tanyaa´O namae wa?” pancing Inu.

“Linda desu! dan kamu?” Eneng balik bertanya.

“Ehhmm´Setiawan desu! anggap saja itu myouji saya, iya ndak?” jawab Inu dengan roman wajah yang riang.

“Siippp´lahhh…!”

Dan mereka berdua pun akhirnya tertawa berderai. Merasa lega dan terbebas dari kekhawatiran jika menghadapi pertanyaan´” O namae wa?”. Dan pepatah..”Apalah arti sebuah nama”, bagi mereka kini menjadi basi. Karena´nama mereka seperti apa pun orang tua memberikannya, ternyata memiliki arti yang cukup mendalam dan memiliki sejarah tersendiri dahulunya.

T a m a t

Catatan kaki:

1. O nama e wa : Namanya siapa?

2. Lindeuk Djapati : Jinak-jinak merpati

3. Keukeuh : Bersikeras

4. Haik : Ya

5. Nihon go de onegaishimasu : Mohon dengan bahasa Jepang

6. San : Tuan/Nyonya/Saudara

7. Desu : Partikel pada akhir kalimat dalam bahasa Jepang

8. Omoshiroi : Menarik

9. Ikimashou : Ayo kita pergi

10. Hay –hay bari er – er : Mau tapi malu

11. Hiber : Terbang

12. Ngaheureuyan ka kolot wae : Menggoda orang tua saja

13. Douzo : Silahkan

14. Homestay : Tinggal bersama keluarga orang Jepang

15. Inu : Anjing

16. Gomenasai : Maaf

17. Myouji : Nama keluarga


Responses

  1. Wah teteh keren euy, emang berbakat menulis kayanya orang2 yang sudah S2. Saya ingin menulis serius suka susah. Mau menulis buku saja duhhhhhhhhhhh godaannya banyak. Mungkin harus di tempat yang jauh dan berbeda suasana kale ya..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.