“ Blek Kurupuk “
“Assallaamu alaikum..”
“Wallaikum salam..”, serentak kami (aku,kakak laki-laki ku dan ibuku) beranjak dari depan TV, rasa-rasanya..lama sekali kami tidak mendengar suara itu….
“Mimiihhh…..”,, teriak kami berhamburan ke pelukan tubuh tua yang telah berdiri di ambang pintu, dialah nenek dari Ayah..yang selalu kami panggil Mimih
“Duuhh..Gusti..,udah pada gede gini incu mimih..”,sambutnya sambil membelai kepala kami satu persatu dengan tangannya yang renta namun nampak masih kuat
“Ya ampun Mih..ini bawa apa?”, Tanya ibu ku memandang sebuah karung terigu yang teronggok di ambang pintu. Belum lagi Mimih menjawab..Kakak laki-laki ku langsung menggotong nya ke dalam…
“Ini pasti alpukat kesenengan ku…”, jawabnya sambil nyengir kegirangan..
“Eh..tunggu dulu, itu angkot nya masih nunggu didepan..”, tiba-tiba Mimih melepaskan pelukan ku,lalu tergopoh-gopoh ke halaman depan. Kami..sedikit heran..apa kah ongkosnya belum dibayar?..pikir ku dan ibu pun sepertinya berpikir seperti itu
Ternyata…Mimih menurunkan 3 buah kaleng yang cukup besar dari dalam angkot, lalu memberikan selembar 500 an yang kumal ke tangan si supir yang kelihatan sudah manyun.
“Niihhh..Mimih buat kiripik kacang, kue kembang goyang sama..goreng ranginang”, ujarnya bangga sambil meletakkan kaleng-kaleng itu dengan cekatan di depan pintu.
Kontan saja..aku dan ibu saling berpandangan sambil melongo..,bagaimana mungkin Mimih membawa oleh-oleh sebanyak itu,mana..jarak dari Desa ke Bandung harus ditempuh 5 jam an dengan Bis, dan Mimih sendiri kemana-mana selalu berkain kebaya.
“ Ya ampun Mihh…banyak banget??”, ujarku sambil berusaha mengangkat kaleng besar yang ternyata berat itu.
“Udah jangan banyak ngomong..,Mimih mau sholat Ashar dulu”, jawab mimih langsung melepas kemben dan selendang yang menutupi kepalanya..aroma minyak wangi khas orang tua tercium bercampur keringatnya..namun Mimih sepertinya tidak pernah lelah..yang dilakukannya langsung mengambil air wudlu..,sholat dan duduk berdoa lama sekali menurut ukuran kami.
“Mimih..lama banget sih berdoa nya…kan belum minum?”, Tanya ibu pada ibu mertua nya sambil mengangsurkan segelas teh manis hangat
“ Ehh…atuh..mimih kan harus syukuran..karena..sampe di Bandung selamet..apalagi bisa bawa oleh-oleh kesenengan anak, menantu dan cucu-cucu”
Ibu ku hanya bisa tersenyum mendengarnya..dengan sayang ibu memijit-mijit kaki Mimih yang selonjoran..sementara aku rebahan dipangkuannya, dan kakak laki-laki ku sudah asyik dengan Alpukatnya..
“Tapi..kalau Aa tahu Mimih babawaan sebanyak ini suka marah Mih..,kan Mimih udah tua..nanti ada apa-apa dijalan gimana?”, ujar ibu ku pelan-pelan takut mimih tersinggung…..
“Ah..biar aja, kan ini mah keinginan Mimih sendiri bukan diminta sama si Aa”, jawab Mimih santai..
“Ya sudah..Mimih sekarang tiduran dulu.., nanti sore dibangunin ya…”,, bujuk ibu, sambil mengamit lengan mimih ke kamar, aku pun beringsut dari pangkuannya..ahh..asiknya setiap Mimih berkunjung ke Bandung..selalu banyak cerita nantinya..,gumamku senang.
……………………………..
Benar saja dugaan ibu, begitu Bapak datang dari kantor dan melihat 3 buah kaleng besar berjejer di dapur dan sebuah karung berisi sekitar 5 kilo an Alpuket, langsung ngomel-ngomel…
“Ya..Alloh….,udah dibilangin berkali-kali jangan babawaan sebanyak ini..masih aja bandel!”, ujar Bapak memandangi oleh-oleh itu sambil geleng-geleng kepala
“Mungkin ingin nyenengin cucu pak..”, ujar ibuku sambil membuat kopi
“Tapi..kan Mimih teh udah tua, dulu juga pernah kejadian jatoh dari bis, karena kainnya keselip waktu nurunin blek-blek kurupuk ini!”, jawab Bapak sambil menunjuk kaleng-kaleng besar yang sudah usang dan disana-sini sudah ada karatan. Ibu, aku dan kakak ku saling berpandangan…iya juga ya…bahaya sekali membawa barang sebanyak ini untuk orang setua mimih..tapi..itulah mimih, selalu keras dan tidak menggubris nasehat Bapak yang kebetulan anak satu-satu nya.
“Mana Mimih nya?”,tiba-tiba Bapak menanyakan keberadaan mimih
“Tidur dari tadi belum bangun, mungkin kecapean”, jawab ku.
“Tuuhh..kan, ya sudah, tolong semua isi kaleng ini dipindah ke dalam plastik-plastik besar!”, perintah Bapak pada ku dan kakak ku
“Kenapa sih dipindahin kan praktisan gitu!”, protes kakak ku sepertinya dia malas
“Sudah jangan banyak tanya, ayo..mana plastiknya!”, Bapak langsung menyingsingkan lengan bajunya, kami pun segera menuruti keinginannya..
“Hhmm…anak sama ibu sama-sama kerasnya…”,gumam ibuku pelan, aku pun terkikik mendengarnya.
Setelah semua isi kaleng berpindah tempat, Bapak langsung menggotong kaleng-kaleng itu kebelakan rumah sambil membawa palu. Kami jadi heran..lho mau diapakan rupanya??…,kami pun beriringan mengintip ke belakang. Ternyata Bapak langsung memukuli kaleng-kaleng itu dengan palu, dan tidak makan waktu lama….. ke 3 kaleng itu sudah berubah wujud menjadi gepeng!
“Supaya,,kaleng ini enggak dibawa-bawa kesana kemari dan diisi oleh-oleh yang banyak lagi!”, ujar Bapak sambil berlalu ke kamarnya…
Ibu,aku dan kakak ku saling berpandangan…”Duuuhhh…bakal perang dunia nih!”, gumam kami bersamaan.
……………………………
Namun malam itu waktu terlewati dengan aman, karena kerjaan Mimih hanya tidur,sholat.makan dan..tidur lagi..diselingi ngobrol-ngobrol sebentar dengan Bapak,ibu dan cucu-cucunya.
Pagi-pagi…setelah sholat subuh Mimih nampak mondar-mandir di dapur.
“Neng..mana Blek kurupuk mimih?”..
“Eh…oh..mau apa Mih?”..ibu jadi grogi, sementara aku dan kakakku langsung mendelik kaget
“Mau nyuguhin si Aa, sepertinya sejak semalem belum tahu ada ranginang”
“Iitttuuu..di plastik mih, biar sama saya aja”, ibu langsung mengambil piring dan membuka plastik berisi ranginang
“Aehh..aehh…kenapa di plastikkan, blek kurupuk na mana?”, Mimih nampak terkejut sekali
“Enggg……ituuu….sama Aa di belakang diiii…..”, ibu kebingungan menjawabnya sambil menunjuk pintu ke arah halaman belakang. Mimih tidak banyak bertanya langsung membuka pintu belakang. Sementara kami didalam menunggu dengan cemas…
“Mana si Aa!!”, teriak mimih sambil menggotong 3 buah kaleng besar yang sudah gepeng ke dalam
“Lagi nonton berita…”,jawab kakakku polos sambil menunjuk ke ruang tengah
“Lalawora pisan!! Ngaruksak blek kurupuk mimih, obong kenah loba duit nya!!”, mimih terus saja mengomel sambil mengacung-acungkan ketiga kaleng gepeng itu..didepan Bapak.
“Astagfirulloh..Mih, coba ingett..dulu juga gara-gara bawa blek kerupuk ini, mimih jatuh dari bis kan?”,Bapak mencoba sabar
“Teu bisa!! Poko na..dina hukum na ge dosa ngaruksak barang batur mun teu ngomong kanu boga na!”
“Iyyaaa…….tapi kan kalengnya juga udah pada butut, karatan..dan…”
“Biar butut tapi mimih mah selalu mencucinya sampe bersih!”,jawab mimih kali ini sambil menangis sesunggukan..akhirnya kesabaran Mimih habis juga, langsung saja mimih membanting kaleng-kaleng itu kelantai..sambil berlari ke kamar, meninggalkan Bapak,Ibu,Kakak dan aku yang masih bengong melihat kemarahannya…..Tidak lama kemudian Mimih sudah keluar dengan tas pakaian dan selendangnya..
“Pokoknya mimih mau pulang!!, asa teu dihargaan mimih mah!”, ujar Mimih sambil menyeka matanya dengan saputangan..lalu bergegas ke pintu depan, spontan kami semua berusaha mengejar dan mencegahnya..tapi terlambat..Mimih sudah melompat, bayangkan melompat!! Ke dalam angkot yang kebetulan melewati depan rumah dan belum berhenti betul ketika di stop mimih tiba-tiba.
“Ya Alloh….bener-bener jagoan si Mimih teh..”, gumam kakak ku sambil berkacak pinggang dan menggeleng-geleng kan kepala nya……sementara ibu dan aku terbengong-bengong tidak mampu berbuat apa-apa..dan dari dalam..kulihat Bapak memandangi kepergian ibunya dengan mata nanar…”Ahkk…Mimih..mimih…andai Abah masih ada..mungkin mimih tidak harus pergi-pergi sendiri seperti ini….andai dirumah ada mobil tentu anakmu ini akan sering-sering berkunjung bersama cucu-cucu kesayanganmu..ke Desa…”, kira-kira seperti itu mungkin pikiran ayahku.
Dan sejak kejadian itu..mungkin bisa sampai 3 bulan lamanya kami tidak mendengar kabar dari Kuningan..gara-gara blek kurupuk butut, akhirnya..Bapak memutuskan untuk cuti dan kami pun berangkat ke Desa..dan oleh-oleh yang kami bawa..3 buah blek kurupuk baru yang dengan susah payah kami dapatkan di pasar Cibadak…duhhh….blek kurupuk..blek kurupuk…., hebat benar artimu untuk seorang Mimih!!
Selesai
*Blek kurupuk: Wadah kerupuk seukuran 3 kalinya kaleng kue kong guan
*Babawaan : oleh-oleh/ barang bawaan
*Incu : cucu
*Butut : jelek
*Lalawora pisan!! Ngaruksak blek kurupuk mimih, obong kenah loba duit nya :
sembarangan!! Merusak blek kerupuk mimih, mentang-mentang banyak uang
*Teu bisa!! Poko na..dina hukum na ge dosa ngaruksak barang batur mun teu ngomong kanu boga na :
Tidak bisa!! Pokoknya secara hokum merusak barang orang lain tanpa memberi tahu pemiliknya adalah dosa
*asa teu dihargaan mimih mah : Mimih merasa tidak dihargai