Calon Pengantin
Part 1
“Hallo..ini teteh?” Suara di sebrang telpon sedikit terdengar parau.
“Betul, ini siapa ya?” saya agak ragu dengan suara itu, rasanya kenal tapi kok pelan sekali kedengarannya…
“Tarsih teh…”
“Ya ampun Sih,..kok tumben nelpon jam segini biasanya..kan lagi kerja?”
“Teh…anter ke dokter bisa enggak, tapi..dokter yang murah ya…”
“Lho?..siapa yang sakit Sih…ya udah janjian di depan Gang ya..”
“Iya…teh, tapi..Tarsih Cuma bawa sepuluh ribu, cukup enggak?”
“Gampanglah…kita ke Poliklinik ITB aja biar murah, tapii…harus agak cepat keburu tutup”
Saya pun segera membenahi benang, jarum dan payet yang berserakan di meja tamu.Ceritanya…saya memang sedang membantu Tarsih mempersiapkan pernikahannya. Dengan modal yang tidak banyak, saya coba carikan kain-kain kiloan di gang Tamim, dan menjahitkannya di seorang kenalan.
Sehingga dengan uang pas-pasan Tarsih nanti bisa memakai baju pengantin putih walau bukan dari bahan satin yang mahal. Dan… supaya lebuh murah sengaja saya mengerjakan sendiri pasang payet-payetnya, sebab kalau semua dikerjakan penjahit bisa
Tidak lebih dari 5 menit, saya sudah menemukan Tarsih berdiri lunglai di depan Gang rumah saya di Pelesiran
“Sih..,kamu sakit apa?..kok muka kamu pucet banget sih?” Tanya saya sambil menggandeng tangannya yang kurus
“Gak tau teh…, sejak kemaren waktu Tarsih abis di lulur sama teteh, sepertinya semua badan jadi dingin..kepala pusing dan…”
“Astagfirulloh..apa lulur itu penyebabnya?..itu kan di oles diluar, kita beli nya bareng kan?”
“Ehh..Tarsih mah yakin itu bukan karena lulurnya teh, tapi…emang badan lagi enggak enak ginih”
“Ya udahhh…hayu atuh cepetan, kan nikahnya sekitar 3 mingguan lagi, nanti gimana dong…”
Saya pun segera membimbing lengan Tarsih untuk menyetop angkot, sebenarnya jalan pun mungkin hanya beberpa menit menuju poliklinik, tapi saya tidak tega.
Poliklinik hampir tutup, namun atas kebaikan penjaganya seorang ibu berjilbab yang ramah dan keibuan, segera mempersilahkan kami masuk begitu melihat wajah pucat Tarsih. Dan saya pun menunggu dengan harap-harap cemas.
“Maaf…mbak ini siapa nya?”, tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruang periksa
“Ssayaa..temannya bu, ada apa ya?”
“Ehmm…sepertinya teman mbak harus dirawat, maaf…dokternya sudah pulang jadi saya yang periksa. Saya tidak yakin apakah Tifus atau…Bronchitis..Cuma dari deru nafas, warna kelopak mata..dan rongga mulut, nampak cukup serius keadaannya”
“Jadi saya harus kemana ini?”,tiba-tiba saya sedikit panik tidak menyangka kondisi Tarsih akan segawat itu
“Lebih baik dibawa ke Rumah sakit, tapi…sementara ini saya beri resep dulu”, sang perawat pun segera memasuki ruang apotik, sementara saya lihat Tarsih masih terbaring di kamar periksa
“Ini..obatnya”
“Berapa bu?”
“Dua puluh ribu”, jawabnya sambil menyodorkan setumpuk obat yang berupa tablet dan kapsul, cukup banyak dibandingkan obat-obat yang biasa saya dapat kalau batuk atau pilek.
“Ohh..maaf ini sepuluh ribu dulu”, saya segera menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan yang sudah lecek milik Tarsih, dan saya pun buru-buru merogoh saku baju, dan…ternyata Cuma ada tujuh ribu
“Sudah…yang sepuluh saja, sisanya pakai ongkos ke rumah sakit ya”, si Perawat segera mendorong kembali tangan saya yang menggenggam usang tujuh ribuan, dan saya pun terkesima melihat kebaikannya..
“Terimakasih bu, semoga Alloh senantiasa membalas kebaikan ibu dengan pahala yang banyak
“Amin…”, jawabnya sambil membuka pintu pemeriksaan pasien, dan membantu Tarsih bangkit dari tempat tidurnya, dengan sigap saya pun segera memasangkan sepatu Tarsih dan membimbingnya keluar.
Ya Alloh…gimana ini??..kalau saya bawa pulang lagi ke pelesiran, badan Tarsih sudah sangat lemas dan panas sekali,sementara mau dibawa ke rumah sakit sepertinya tidak mungkin saya sendirian menemaninya..
Otak saya berputar mencari cara yang terbaik, akhirnya…Tarsih saya duduk kan dulu di bangku, lalu saya segera menuju box telpon tujuan saya segera nelpon suami yang kebetulan sedang pergi ke rumah mertua
“Halo..ini Aa?”
“Iya..ada apa Neng..?”
“A…ini saya bawa Tarsih ke poli ITB, sakitnya lumayan serius katanya harus segera ke RS, gimana dong…tapi udah dikasih obat sih sama perawatnya…”
“Ehhmm…gimana ya…”, Aa jadi bingung juga ditanya mendadak begitu
“Lebih baik dibawa pulang saja dulu ke rumahnya, beritahukan apa sakitnya ke orang tua nya, karena..lebih baik keluarganya yang mengantar”
“Ohh..gitu ya…tapi gak mungkin nih dibawa jalan, kalo naik angkot kasihan..”
“Naik taxi aja atuh..”
“Iya…ini Neng punya tujuh ribu, tapii…itu uang buat belanja besok gimana A?…”, saya segera minta persetujuan suami, walau pun bisa saja saya paksakan untuk menggunakannya, tetapi lebih baik Aa tahu apa yang harus saya lakukan, mengingat…kondisi kami yang menikah selagi kuliah ini juga harus bekerja keras mengambil les disana sini untuk kebutuhan sehari-hari.
“Gak apa-apa..pake aja, insyaAlloh nanti juga ada rezeki untuk menggantinya.Udah…sana cari taxi, sebentar lagi Aa pulang ke pelesiran”
“Ya udah..doa in ya A…Tarsih enggak apa-apa”, Klik saya pun segera menutup telpon, dan..masyaAlloh…Tarsih sudah tergeletak tak berdaya di bangku poliklinik, akhirnya dibantu beberapa orang Satpam BNI yang bertgas di samping ploklinik ITB, saya pun berhasil membawa Tarsih ke dalam taxi dan membawanya pulang sampai di rumah….
…………..
Bersambung