Beri aku kesempatan….
Part I
Siti Sarah namaku…、cukup dikenal diantara mahasiswa angkatan 1997 pada saat itu.
Dengan tubuhku yang sedang, Sarah..demikian aku selalu memperkenalkan diri, selalu ada di mana-mana. Aku selalu tampil di depan jika barisan Badan Eksekutif Mahasiswa mengadakan Demo, selalu pula hadir dalam kegiatan Orientasi Mahasiswa baru, selalu meramaikan juga panggung-panggung kesenian kampus dengan Unit Band kampusku dan jangan heran jika aku pun kadangkala hadir dalam acara-acara pengajian di Jurusanku “ Teknik Penerbangan”
Keberuntungan yang aku dapatkan sehingga mampu menembus bangku kuliah di perguruan tinggi bergengsi berikut jurusan yang tidak biasa bagi seorang perempuan, membuat kepercayaan diriku muncul melesat bak roket menembus langit. Kalau mau jujur…asal ku dari keluarga yang biasa saja, tidak kaya..tapi juga tidak miskin.Orang tua ku juga bukan dari kalangan akademisi, tetapi Ayahku mempunyai garis keturunan para Bangsawan kota Cirebon, yang masih saja bangga dengan leluhurnya..dan selalu berfikir bahwa keturunan darah biru adalah strata paling tinggi di pulau jawa, sekalipun waktu telah bergulir dan tidak ada sedikitpun warisan keraton yang pernah kami nikmati dalam kehidupan nyata sampai dengan saat itu.
Kini..dibangku kuliah, aku telah beranjak dengan merangkak ke tingkat semester 7, suatu masa dimana kesulitan yang lebih nyata terasa semakin berat,..kesulitan dalam tuntutan tugas-tugas kuliah yang bertumpuk, biaya-biaya yang semakin besar juga perobahan aliran hormonal dalam tubuhku yang semakin bergolak, energi yang pada mulanya hanya terfokus pada berbagai aktivitas organisasi dsb..kini berubah menjadi lembek..dan ingin mencapai jati diri yang lebih, sebagai seorang perempuan. Diriku terlalu tomboy untuk ukuran seorang perempuan, sehingga belum pernah sampai usia ku menginjak 21 tahun ini aku merasakan getaran-getaran hebat terhadap lawan jenisku…….
Hingga suatu hari aku dihadapkan pada suatu permasalahan…
“Jang..aku merasa aneh dengan perasaan ku akhir-akhir ini..”, ujarku sedikit bergetar. Jajang sahabat ku langsung menoleh dari hamparan kertas Karkir yang sedang dicorat-coretnya membentuk konfigurasi sebuah pesawat tempur Typhoo nya Eurofighter
“Memangnya..apa yang kau pikirkan Sar?..”
“Ahk..gilaa..ini tidak seharusnya aku alami, benar-benar menyiksa!!” desahku..
“Well..kau tak akan menjadi gila betulan jika mau cerita pada ku!” Ujar Jajang santai.
“Ahkk…kamu tahu si Carok Madura itu kan?”, tanyaku dengan gusar, sambil berusaha menggambarkan sosok tinggi tegap yang selalu vokal dalam berbagai hal namun juga terkenal dengan reputasinya sebagai keturunan silang antara jenis Buaya Darat dan Macan kampus, begitu istilah teman-teman se kampus padanya.
“E..e..e..rupanya ada yang kena perangkapnya juga neehh…”,Jajang langsung mengomentariku sambil mengerling bandel.
“Gila!!..apa aku kelihatannya seperti itu Jang??”tanyaku shock.
“Hahah…aku sudah kenal banyak temen cewek aktivis model-model kamu Sar, mulanya mereka membenci si Carok itu, tapii..entah pake apa dia akhirnya semua jatuh dan lengket kayak lem takol”, ujar Jajang sambil menyedot dalam-dalam puntung rokok nya.
“Huhh..! sudahlah aku benci dengan keadaanku ini, its only between us Ok?, kataku menyudahi pembicaraan yang menyebalkan itu. Hemm..aku memang sebal, apalagi jika aku bayangkan betapa lengketnya si Carok itu dengan cewek blasteran, anak Arsitek 99 .
“Bener-bener menyebalkan!, ahhh…jangan-jangan aku terbakar api cemburu, gila!”.
Dua bulan berlalu sejak aku terombang ambing oleh..perasaan itu….
Hari-hari yang biasanya kulalui dengan riang gembira, kini..terasa membosankan..Langkahku ke ruang kuliah serasa berat, ketemu dosen menjadi malas dan kali ini pun ketika rapat dengan para senior BEM, tetap saja tidak membuatku senang, karena..kehadiran si Carok dan cewek blasteran itu selalu membuatku sesak. Tetapi..jika dia tidak hadirpun akan semakin membuatku kosong.
“Akh…kenapa aku jadi bergantung pada keberadaan nya??”, umpatku kesal.
Akhirnya kuseret langkahku keluar ruang rapat, sekalipun si Carok itu sedang berkoar-koar di depan mempresentasikan rencana pemilihan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa yang akan datang.
Aku berlari kencang..entah apa yang kucari, rasanya ada gelombang besar yang akan tumpah ruah dari dalam dadaku,
Ego ku yang besar telah mencapai puncaknya menolak ketidakberdayaan ini,
Sampai aku terhenti tepat di sudut Sekretariat HMI Teknik penerbangan, nafasku tersenggal-senggal dan aku terduduk lemas, sambil menatapi sekelompok mahasiswa dan mahasiswi jilbaber yang sedang duduk terpekur di dalam ruangan itu
“Ehm..Assalaamu alaikum..Siti Sarah kan?” Tiba-tiba sebuah suara yang agak berat menyapa ku.
“Eh..oh..Kang Ahmad?” Aku agak terkejut melihat kehadiran seniorku di penerbangan itu yang tiba-tiba sudah berdiri tak jauh dari ku.
“Hisashiburi desu ne..”, ujarnya dalam Bahasa Jepang yang sudah lama aku tinggalkan.
“Ee.. hisashiburri,..genki ?” , tanyaku ragu.
“Genki.., kemana aja nih sudah lama tidak datang ke Nihongo club?”, tanya nya.
“Eittoo..Choutto..isogashi desu”, jawabku sedikit malu, padahal…karena aku memang pembosan saja. Rasanya hampir semua unit kegiatan kemahasiswaan pernah aku ikuti, finally..semua kandas kecuali kegiatan organisasi kampus, alasanku karena disana..lebih heboh, menantang dan..tentu saja ada si Carok itu,Huh!!.
“Hei kok bengong, mau masuk enggak? lagi ada pengajian tuh..,bagus lho pembicaranya ustadz Abdul Ishak, alumni penerbangan juga, angkatan perintis tahun 91”, ajaknya spontan..
“tettapii…”,jawabku agak malas.
“Ayo lah..sudah lama saya lihat Siti tidak hadir kan?..” ajaknya ramah, sambil mendahuluiku masuk ke ruangan itu.
“Ahk..baiklah..”, akhirnya aku mengalah、memang betul dalam setahun terakhir ini aku sangat jarang mendatangi pengajian jurusan . Dengan sedikit canggung aku memasuki ruangan itu..ups!!..sepertinya semua mata memandangku..buru-buru kutarik kebawah cardigan pendekku jangan sampai kulit perutku mengintip seperti biasanya..
Seorang mahasiswi berjilbab yang sering kudengar biasa di sebut sebagai akhwat yang aku tidak ingat angkatan berapa segera menggeser duduknya..
“Disini mbak..”,ajaknya sambil tersenyum manis..
“Eh..makasih..”,jawabku malu, sambil tanpa sadar tanganku mengusap rambut tukung ku, seolah-olah ingin ku sembunyikan.
“Maaf mbak..kenalkan saya Ningrum..”,tiba-tiba akhwat itu berbisik sambil mengulurkan tangannya.
“Oh..ya,saya Sarah..eh Siti Sarah, hhmm..dik Ningrum angkatan berapa?” Aku mencoba ramah..dan kusebut dia dik, karena wajahnya yang putih bersih menambah ke-muda-annya.
“Saya dua angkatan di bawah mbak Siti…”,jawabnya ramah.
“Ehh..memangnya tahu saya angkatan berapa??”, tanyaku heran.
“Iyya..dong siapa yang tidak kenal mbak Siti..,aktivis BEM, pintar dan cantik lagi..”,jawabnya tulus.
“Oh!!..ee..makasih.., eh berarti seangkatan sama cewek blasteran Arsitek itu dong?” Aku balik bertanya dengan spontan.
“Hhmmm….yang mana ya..??” , akhwat itu nampak bingung..
“Eh..aduuh..maaf…saya asal nanya aja..”, jawabku dengan malu.. “duuhh..kenapa tidak bisa menahan diri begini sih??”..gumamku sedikit kesal.
Selanjutnya..aku terdiam dalam lamunan, sepertinya tak satupun untaian indah sang Ustadz yang mampir dibenakku.
Sesekali Ningrum melemparkan senyuman manisnya padaku, seolah..mengajakku untuk sejenak menyelami lantunan ayat yang disampaikan sang ustadz didepan,ahh..aku pun buru-buru mengalihkan perhatian dari bayangan si Carok menyebalkan itu.
…………………………..
Part 2
Dua bulan telah berlalu dan kini aku sedang tenggelam dalam tumpukan tugas dari dosen pembimbing skripsiku . Kali ini tugasku agak berat, aku harus membuat tahap perancangan awal sebuah pesawat udara.Berhari-hari aku mencoba untuk mengembangkan program analisis konfigurasi pesawat udara dengan spesifikasi yang telah ditentukan oleh dosenku. Sekalipun aku tahu ini pekerjaan sulit dan biasanya aku selalu pontang-panting mencari bantuan kesana-kemari.
Namun kali ini, aku sengaja menenggelamkan diriku seolah-olah ingin mengalirkan seluruh energi ku kesana.
“Hei! Serius banget Sar?” Tiba-tiba sebuah tepukan dipundakku membuyarkan seluruh konsentrasiku.
“Astaga! aku pikir siapa..,ngapain kamu disini Jang?” tanyaku sedikit kesal karena kaget.
“Well..well..mau inspeksi ajaa…siapa tahu calon insinyur kita yang satu ini butuh bantuanku..”,jawabnya sambil nyengir.
“Kalau mau bantu, tuuhh..bikinin konsep perancangan dan analisis komputasional Airfoil dan Lifting surface!!” ujarku sambil melemparkan beberapa jurnal ke meja.
“Ahkk…sorry, kalo itu sih bukan mainanku..salah sendiri kamu pilih aerodinamika komputasi, hahah…aku alergi deh kalo bikin program-program analisi kayak begitu”!.
“Alahh…lagak mu aja mau nolongin aku, sudah pergi sana! aku jadi nggak konsen neehh..!!” usirku dengan galak.
“Okay..okay..tapi aku bawa berita nih, kujamin kamu pasti mau denger..”,ujarnya sambil memainkan mimik wajahnya agar aku penasaran.
Tapi aku pura-pura tidak melihatnya, kuteruskan menekan-nekan tuts komputer butut didepanku.
“Ya…sudah!! Mungkin topik si Carok itu sudah tidak laku rupanya ya?” Jajang langsung menembakku dengan sebuah nama.
“Maksudmu??” tanyaku dengan nada menyelidik, kali ini aku benar-benar penasaran.
“Hahah..nyerah juga sekarang!, tuuhhh….kamu dicari-cari sama si Carok itu sejak kemaren, katanya hari ini kamu ditunggu di ruang BEM, jam empat!!” jawabnya dengan singkat, sambil mencomot bekal rotiku lalu ngeloyor pergi tanpa memberiku kesempatan bertanya-tanya lagi.
“Jajang..Jajang..sobatku satu ini emang aneh bin ajaib”, sekilas seperti yang tidak waras karena sikapnya yang nyeleneh, dan penampilannya cuek luar dalam. Tapi jangan ditanya kalo disuruh bikin gambar pesawat tempur, bisa detil and spesifik banget!!!.
“Akhh…tumben..ada apa dia mencariku??” gumamku heran..
Tiba-tiba..desiran aneh yang sekian lama berusaha kuredam muncul lagi..kali ini serasa disengat ribuan voltage listrik…
Serentak aku berdiri, karena jam ditanganku sudah menunjukkan pukul empat dua puluh menit!. Segera kusambar tas ku, lalu aku berlari secepatnya menuju Sekretariat BEM yang jaraknya kurang lebih 300 meter dari Laboratoriumku.
Nafasku terasa tersenggal-senggal sesampainya di ambang pintu sekretariat BEM, ku coba untuk merelaksasi seluruh urat syarafku..”Aku..tidak boleh kelihatan grogi seperti ini..”,gumamku pelan.
Perlahan kubuka pintu sekretariat yang memang sepi pada jam-jam seperti ini, ”Ah..jangan-jangan si Jajang ngerjain nih…”, pikirku ragu. Kucoba untuk menjelajahi ruangan itu dengan mataku….sepi.
“Hei, Sarah! aku disini!” Tiba-tiba sebuah teriakan memanggil dari balik tubuhku.
“Eh..oh..maaf aku terlambat, ada apa Car..eh..Man?” Aku terlonjak sambil membalikkan tubuhku dengan spontan, hampir saja aku memanggilnya si Carok, sebab jarang sekali aku menyebut namanya……Hilman. Walau dia dua angkatan diatasku, tetapi dia selalu minta teman-teman memanggil langsung namanya saja.
“Its okay..,duduk ”, jawabnya singkat sambil menunjuk kursi disebrang mejanya.
“Huhh…angkuh sekali ..”, gumamku dalam hati, tapi aku tidak ada pilihan lain, akupun duduk di hadapannya. Kupikir dia akan langsung bicara, ternyata yang dia lakukan hanya menatapku lurus tepat ke dua bola mataku. Jelas saja aku salah tingkah, setelah sekian lama sejak rasa itu ada..sepertinya aku tidak pernah duduk berhadapan seperti ini, berdua lagi!
Ya Tuhan.…bola mata elang itu..seakan menyihir seluruh persendianku..
“Aku kangen, lama tidak melihatmu..,sibuk?” akhirnya Dia bersuara juga, dengan pernyataan yang membuatku kaget seperti disengat tawon.
“Hhmm….banyak tugas!, tapii..kenapa harus kangen padaku?” Aku balik bertanya dengan berani walaupun sebenarnya sekuat tenaga aku menahan getaran dalam tubuhku.
“Tidak boleh?” Dia balik bertanya dengan nada tinggi, kali ini aku gelagapan.
“Eh..oh..aku pikirrr… cewekmu banyak, dan kau tidak pernah kehilangan satu pun dari mereka, so..satu saja hilang tidak masalah kan?” Aku mencoba berkelit.
“Jadii..maksudmuu..kau salah satu dari cewekku begitu?” Dia menembakku dengan pertanyaan yang membuatku terhenyak. Yang kurasakan mukaku merah padam, malu, sebal dan..juga sedikit rasa aneh, aku segera memalingkan muka ke arah jendela karena aku tidak mau salah bicara lagi.
Kali ini aku merasa kalah…dan tak berkutik didepannya, menyebalkan!!!
“Akhir-akhir ini aku merasa kau selalu menghindar, bahkan kau melalaikan sebagian tugasmu di sekretariat. Kau tahu kan..tidak lama lagi aku harus berganti posisi dengan ketua BEM yang baru, artinya..banyak sekali laporan pertanggungjawaban yang harus kubuat. Aku tidak tahu apa yang membuatmu menghilang begitu saja..yang jelas aku kecewa!” Tiba-tiba dia bersuara lagi, kali ini dengan rentetan kalimat yang membuatku sedikit merasa terpojok.
“Apa?..kecewa?, hei! siapa dirimu sehingga berhak berkata seperti itu padaku, aku kan bukan sekretarismu!. Selama ini aku hanya membantu tugas kesekretariatan saja..lagipula mana mungkin kau peduli dengan pekerjaanku karena kau sibuk dengannn….”,aku ragu untuk meneruskannya…
“Dengan apa??..siapa?? teruskan!” Suaranya seolah-olah menghardikku, membuat jantungku berdetak hebat.
“Itu bukan urusanku!! Sekarang katakan apa maksudmu memanggilku kemari??” Tiba-tiba keegoanku muncul kembali, aku segera beranjak dari kursi sambil menekan kedua tanganku di meja.
Kali ini kulihat si carok itu yang gelagapan, dia kesulitan memilih kata-kata dan aku tiba-tiba merasa menang, walau..rasanya air mata ku hampir jatuh dipelupuk mata.
“Aku..aku….akhh..”, dia hanya bergumam tidak jelas,dan ini kesempatanku untuk membuatnya K.O!
“Huh!!..mangkanya..kalau mau marah difikir dulu apa keperluannya, memangnya semua cewek bisa kau taklukkan apa?, maaf aku masih banyak kerjaan!” jawabku seketus-ketusnya sambil membalikkan tubuhku ke arah pintu.
“Tunggu!!”, tiba-tiba dia menahan langkahku..dan aku merasakan cengkraman tangan yang sangat kokoh di lenganku.., belum sempat aku mengelak, dengan kuat dia membalikkan tubuhku.
“Siapa yang mau menaklukanmu?..apa maksudmu..?” tanyanya sambil menatap mataku tajam.
Kali ini aku benar-benar gentar, tiba-tiba meleleh aliran sungai dari bola mataku..dan aku tidak sanggup lagi berkata-kata.
“Sarahh..apa yang kau pikirkan tentang aku?”…. Kali ini nadanya sedikit menurun, dan cengkraman tangannya pun melonggar.
Tapi aku tetap saja tidak mampu bicara, apalagi kurasakan aku dan dia begitu dekat, sehingga aroma Equipage yang selalu dipakainya terasa kuat tercium menyumbat kepalaku. Dan…tiba-tiba..kurasakan hembusan nafasnya mendekati wajahku……
“Akhh!! Lepaskan!..aku harus pergi!” Tiba-tiba kesadaranku pulih dari biusan aroma nya, sekuat tenaga aku hentakkan tangannya dan berlari meninggalkan ruang sekretariat yang sepi itu. Aku tidak tahu..apa yang aku bicarakan tadi, segala macam rasa bercampur baur didadaku..
…..Dan aku pun tidak tahu..bahwa bola mata elang itu..terus menatapku sampai tubuhku menghilang..dan aku pun tidak tahu..bola mata elang itu pun nanar menahan telaga bening di pelupuknya…
Hatiku terasa bergolak hebat, sekuat tenaga kutahan air mata ku..
“Ya Tuhan…kuakui perasaan itu telah hadir di dalam hatiku, begitu hebat sehingga aku tidak kuat untuk menahannya..dan hari ini hampir saja aku runtuh walau aku sendiri tidak yakin apa yang dia rasakan. Tapii..benarkah dia kangen padaku??…anehh….”,gumamku tak habis pikir.
Rasanya tak mungkin aku meneruskan tugas-tugasku, lagi pula cuaca mendung semakin menghitam, segera kubenahi jurnal-jurnal yang berserakan di meja dan segera ku shut down komputer lab tuaku yang sedari tadi rupanya lupa kumatikan.
Namun tiba-tiba….PLARR!!!…. petir menyambar dan menggetarkan kaca-kaca jendela disekitarku..aku sampai terlonjak kaget, namun aku tetap bertekad untuk pulang.
Aku berlari menyusuri lorong-lorong kampus, sambil berusaha menutupi kepalaku dengan jaket parasutku..dari limpahan hujan yang deras, dan seolah-olah ingin menandingi suara gemuruh ombak yang kuat dari dalam dadaku.
Aku terus berlari melewati gerbang kampus…hingga terdengar suara roda yang mencicitt..karena di rem tiba-tiba…….
”BRAK!!!”…..Tahu-tahu sebuah motor bebek terlempar beberapa meter ke trotoar pinggir jalan, setelah tercium oleh moncong angkutan kota yang melaju kencang dan tidak berpenumpang…
“Edan!!..maneh teh lolong sugan?? Puas.. siahhh!” sumpah serapah terdengar dari mulut supir angkutan kota itu..dan selanjutnya langsung tancap gas meninggalkan penumpang motor yang tergeletak tak berdaya itu, tanpa perasaan.
“Akkhh…ya Alloh…….Astagfirullahhhh..……Allaahu Akbar…toolloonngg…..”, suara yang sangat lemah diantara derasnya hujan sayup-sayup terucap dari bibir sang pengendara motor itu….Tangannya berusaha menggapai kakiku yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari tubuhnya yang bersimbah darah…
Aku mundur selangkah..dua langkah..pemandangan ini terlalu mengerikan untukku.., genangan berwarna merah…dari belakang kepalanya melebar mengenai sepatu kets ku….,tiba-tiba..rasa ketakutan yang sangat hebat menyerang dadaku…aku tak sanggup berbuat apapun..melihat tubuhnya..yang berkelojotan..beberapa kali lalu diam..tak bergerak…
Mata ku nanar..kepalaku serasa berputar,..akhirnya..pertahananku bobol dan terasa ringan melayang terhempas bersama derasnya air hujan ke jalanan aspal yang keras dan dingin….Namunnn….sempat kurasakan sepasang tangan yang kokoh menyambar tubuhku…walau tetap saja tak mampu menahan beban tubuhku…,tapi aku tak tahu…tangan siapa kah itu….
……………………..
Part 3 :
“…..Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam syurga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenagan dunia yang memperdayakan…” Qs.Ali Imron:185
……………..
Demikian sebagian ayat yang kudengar dari untaian doa yang dibacakan oleh Ustadz yang memimpin penguburan jenazah..Ibrahim Alaudin, mahasiswa semester terakhir jurusan Teknik Pertambangan
“Dan kini aku terpekur di hadapan pusaramu…aku tidak mengenalmu..namun karena diriku kau harus pergi secepat ini…”, gumamku lirih..sambil menatap nanar gundukan tanah merah itu. Ahkk..seandainyaa..aku tidak muncul dengan tergesa-gesa dari gerbang kampus saat itu…mungkin dia tidak harus menghindariku dan akhirnya tertabrak sopir angkot tak bertanggung jawab itu. Walau..kudengar dari beberapa teman bahwa polisi sudah menangkap sopir angkot yang ternyata dalam keadaan mabuk dan dianggap sebagai penyebab malapetaka kemarin sore itu,..namun tetap saja aku merasa bersalah..
“..Mbak Siti..,, ayo kita pulang..”,tiba-tiba kudengar seseorang mengajakku..
“Eh..Dik Ningrum, duluan saja..saya masih mau disini..”,jawabku lirih sambil menyembunyikan kedua bola mataku yang telah basah.
“Tapi mbak..ini sudah sore..gerimis lagi, lebih baik mbak ikut saya saja. Kontrakkan saya tidak jauh dari sini, ya mbak…”, Ningrum terdengar sedikit memaksa sambil menggamit lenganku. Akhirnya aku mengalah..lagipula..tubuhku terasa letih, kepalaku penat karena..rasa-rasanya sedikitpun aku belum tidur sejak kejadian itu.
Kini diriku terbaring lemah di ranjang mungil milik Ningrum, sebenarnya…aku merasa canggung karena..baru kali ini aku mengunjungi kontrakkannya, namun keletihan yang amat sangat membuatku menjadi tak berdaya..
“….Dik Ningrum…apakah kau mengenal Ibrahim?…”Tanyaku memecah keheningan.
“…Hhmm..tentu mbakk..dia sangat baik..kebetulan terakhir..dia kembali membantu kami di Masjid kampus untuk mempersiapkan kegiatan Ramadhan..”,jawab Ningrum sambil menghela nafas dalam-dalam.
“..Berarti dia dulu aktif di Masjid kampus kita ya…?” Aku semakin tercekat dengan kenyataan itu..
“Yahh..begitulah..dan pada hari itu, dia baru saja mengurus surat-surat perijinan dari MUI karena..ada beberapa kegiatan yang akan menggunakan fasilitas mereka”..,jawab Ningrum sambil menyerahkan segelas teh panas padaku.
“ Oya maaf mbak, saya tadiii..agak kaget melihat mbak ada di pemakaman, mbak mengenal dia juga?…” Tiba-tiba Ningrum menanyakan keberadaanku di pemakaman itu. Wajar saja dia heran karena kehadiranku di antara para aktivis masjid kampus sangat bisa dihitung oleh jari.
“…Akhh…ini semua salahku..,aku benar-benar ceroboh..”, aku tak mampu menjawab pertanyaannya, pertahananku akhirnya bobol..aku menangis sesunggukan, membuat Ningrum kebingungan… namun akhirnya dengan terbata-bata aku ceritakan kejadian sore itu..namun tetap saja aku tidak berani mengatakan alasan keteledoranku..
“Ohh.., jadi yang dimaksud kang Ahmad, ketika dia menolong seseorang yang tergeletak pingsan disamping tubuh kak Ibrahim itu..adalah..mbak Siti???” Tiba-tiba Ningrum sedikit terpekik, kelihatannya dia tidak percaya bahwa akulah saksi dari kejadian tragis itu..
“Betul..itu aku, akh….aku malah tidak tahu kalau yang membawaku ke kantor Satpam adalah kang Ahmad..”, aku pun sedikit terkejut, sebab..seingatku setelah aku sadar, seorang Satpam kampus mengantarku pulang dengan motornya.
“…Yahh..itulah takdir mbak..kita tidak pernah tahu kapan, dimana dan bagaimana kita akan mati…, jadii..mbak jangan merasa bersalah seperti ini. Tentu ada alasannya kan kenapa mbak tergesa-gesa seperti itu…”, Ningrum berusaha menenangkan ku..sambil mengelus-ngelus jemariku.
..Akkhh..andai dia tahu alasannnya…tentu dia tak akan pernah memaafkan aku..
“Sudahlah mbak, yang terpenting adalah..setelah ini kita semakin mendekatkan diri pada Allah SWT. Dan kita pun akhirnya akan mati..kita berdoa saja semoga kita berakhir Khusnul khotimah……insyaAllah seperti Kak Ibrahim..”, ujar Ningrum tanpa bermaksud mengguruiku, dengan nada yang dalam..seolah-olah..ikut merasakan kesedihanku.., dan kulihat dia pun menangis..
“Dik Ningrum……aku takut sekali mati,….. aku tidak tahu bagaimana jika aku mati tidak dalam keadaan yang baik…, hidupku penuh dengan kemunafikan, hura-hura dan..keinginan untuk senantiasa mengejar kesenangan dunia saja. Hidupku hanya untuk makan, tidur, beraktivitas untuk mencari kepuasan dan jati diri , belajarpun..semata-mata untuk mengejar gengsi jika ketinggalan oleh teman.., jika aku menang atau berhasil..aku selalu merasa itu akibat kehebatanku, jika aku gagal..aku selalu mengumpat dan tidak pernah berintropeksi diri…”, ujarku sambil tanpa sadar memeluk tubuhnya yang mungil erat-erat.
Dik Ningrum..balik memelukku dengan erat, kurasakan..didalam dekapan adik angkatan ku ini..aku menjadi seperti seorang anak kecil yang tidak berdaya, kurasakan gemuruh keras di dadanya..dan kurasakan..pundakku pun sampai basah oleh air matanya.
“….Subhalanallah..Mbak Sitiii…, saya tidak mengira jika kepergian kak Ibrahim ini akan menggugah perasaan Mbak Siti sedalam ini, padahal mbak sama sekali tidak mengenal dia. Mudah-mudahan..Allah SWT memberikan hikmah dibalik semua ini..untukMbak Siti..dan saya juga…”, sambil sesunggukan Ningrum kembali mencoba menenangkan diriku,
“Aminn…”, jawabku lirih..dan selanjutnya..Ningrum beranjak dan mengambil sebuah catatan kecil di meja belajarnya..
“Mbak..saya bacakan sebuah hadits ya…mudah-mudahan..ini akan memotivasi diri kita untuk kembali ke fitrah..”, ujar Ningrum sambil membuka catatannya,..aku pun segera beringsut dari tempat tidur, dan duduk dihadapannya di atas hamparan sebuah tikar pandan.
“……..Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Apabila seseorang dari kamu berada dalam keadaan tasyahhud, maka hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara dengan berdoa: Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon perlindungan kepadaMu dari siksaan Neraka Jahannam, dari siksa Kubur, dari fitnah semasa hidup dan selepas mati serta dari kejahatan fitnah Dajjal……”
Usai Ningrum membacakan hadits itu..aku terpekur…menerawang..membayangkan kilasan episode hidupku..mungkinkah ya Allah..aku bisa mengambil hikmah dibalik semua ini??….
“Allahu Akbar..Allaahu..Akbar…..”, tiba-tiba gema takbir memecah lamunanku..
“Mbak..adzan maghrib tuh.., sholat bareng yuk..”, ajak Ningrum sambil menepuk lenganku pelan.
“Eh..oh..ayo, tapii…saya tidak bawa mukena?…” Ujarku polos..yah..memang mana pernah aku pergi-pergi membawa mukena, selama ini..jika aku pergi pagi, maka dzuhur ku akan ku jama dengan Ashar ketika pulang, demikian pula..maghrib dan Isya..jika aku pergi sore sampai malam.
“Its okay..nih ada mukena saya, biar saya pakai jubah saja..,eit lupaa…dari pemakaman sebaiknya kan kita ganti pakaian dulu.., mbak pakai baju saya ya..sekalian nginap disini pokoknya!!” Ajak Ningrum ceria sambil mengusap air matanya dengan ujung jilbabnya.
“Tetett..tapiii…”,aku sedikit ragu dengan tawarannya,…..
Ningrum langsung menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memasang muka merajuk lucu.., dan menggamit tanganku ke arah lemari pakaiannya.
Akh..mana mungkin aku menolak..ajakannya yang sedemikian terdengar hangat dan tulus padaku..Ningrum..Ningrum..sepertinya aku sudah mengenalmu seribu tahun lamanya.., aku pun terpana memandang dirinya…
Dan..hari ini aku benar-benar merasakan Sholat yang khusuk untuk pertama kalinya dalam hidupku..Walau aku tidak mengerti surat atau do’a apa saja yang dibacakan oleh Ningrum, tapi aku bisa merasakan betul..makna yang terkandung didalamnya…, getaran suara Dik Ningrum benar-benar membuatku tersungkur dihadapanNya..,
”Ya Allah…beri aku kesempatan seribu kali lagi…….sebelum aku benar-benar merasakan mati..”, gumamku lirih..
Dan Dik Ningrum akhirnya mensudahi do’a nya yang panjang lalu menggenggam tanganku..selanjutnya mencium pipiku kiri dan kanan…
“Terimakasih mbak…saya pun sudah lama tidak pernah sholat dan berdo’a se nikmat ini…”, ucapnya pelan, membuatku sedikit terkejut…tidak percaya..namun sepertinya Ningrum membaca keherananku..
“Jangan memandang seperti itu doongg…, mungkin yang mbak tahu..saya rajin ke pengajian, ngurus kegiatan rohani kemahasiswaan, masjid.., tapi…belum tentu ketika sholat saya ikut hadir didalamya…, belum tentu ketika sholat..seluruh panca indera saya fokus pada sang Khalik, sehingga..hasil sholat itu pun akhirnya..tidak berbekas pada diri saya selain rasa tenang karena sudah melakukan kewajiban rutinitas belaka ”…ujar Ningrum panjang lebar.
Aku pun terangguk-angguk mendengarnya. “Ningrum saja bisa merasakan seperti itu, lalu bagaimana dengan sholat ku selama ini..?”…..
“Ahkk…..malu benar rasanya..,mudah-mudahan….tidak ada kata terlambat untuk memperbaikinya lagi!!” gumamku mantap.
Selesai
rasanya saya teh udah bikin terusannya..
tapi insyaAlloh jika memang belum kelar ntar begitu ada waktu diterusin dehh..
cerpen ini special untuk temen2 tercinta semua di Indonesia dan Nagoya yang selama ini selalu menjadi sahabat terbaik Iteung…^-^
By: nining on January 13, 2008
at 12:50 pm