Assalamu alaikum wr wb,
Temen2, mudah2an pengalaman pertama saya menghadiri acara ososhiki atau ceremony kematian di Jepang, bisa menjadi sedikit gambaran kalau suatu saat harus menghadiri acara yang sama. Jadi mohon maaf akhirnya dongeng saya semalem bersambung..
Pada hari Minggu, temen kaka sekelas waktu kelas 2 meninggal. Katanya semacam kanker di kepala.
Sampai hari selasa, saya masih penasaran yang mana anaknya, seklaipun kaka sudha memberi gambaran.
Hari senin jenazah masih di rumah sakit. Pihak keluarganya mengurus berbagai hal, termasuk gedung ceremony mana yang akan dipakai. Di Nonami ada 2. Sebrang nya exit 3, dan dekat Kentucky Fried Chicken. Dari juutaku jalan kaki, akhirnya diputuskan yg dekat kentucky.
Saat hari minggu itu, semua guru secara maraton menelpon semua ortu kelas 3. Krn anak yang meninggal itu saat ichi gakki, sempat masuk sekolah. Dan PTA pun segera membentuk panitia.
Selasa sore, mulai acara penyambutan jenazah di gedung. Banyak yang hadir mulai jam 6 – 7 malam. Anak2 sekalian berlatih nyanyian terakhir. Kaka juga datang, saya nggak bisa.
Rabu, jam 10 lebih. Saya udah berusaha nyiapin baju serba hitam. Tapi kaus kaki hitam dan kerudung hitam nggak ketemu. Ahirnya selain kerudung dan kaos kaki, yg lain serba hitam. Saya pikir, mungkin ini salah satu cara menghargai budaya orang Jepang, dan Alhamdulillah selama warna yg dipakai netral ternyata sah saja. Yang taihen Kaka dan Kirei. Akhirnya kaka berblazer putih, celana coklat, Kirei kebetulan ada sweater, dan stocking hitam.
Ketika memasuki gedung, sayup2 terdengar lagu koor anak2 dari speaker, bener2 bagus deh suara anak2. diiringi dentingan piano. Ternyata itu hasil rekaman kemarin nya. Saat itu bene2 saya perhatikan, semua berpakaian hitam, stocking hitam dan ber tas hitam. Dan PTA yang menjadi panitia, semua jelas2 berseragam hitam, dan memakai kalung mutiara, demikian juga wakasek, Sakurai sensei.
Semua tamu menuliskan nama, dan asal dari Naganedai shougakkou. lalu menyerahkan amplop pada panitia, lalu baris menuju kursi. Kaka duduk di dekat jenazah, krn semua yg pernah menjadi classmate di duduk kan di depan.
Aroma bunga sangat lembut, dan banyak sekali, dekorasinya indah dan semua duduk dikursi menghadap peti jenazah. Saya udah gak tahan ingin melihat wajahnya, akhirnya ditemani Ito san, saya dipersilahkan memandangnya.
Astagfirullohal adziim..
Ternyata, Keiko chan yang ini??… kulitnya kuning langsat, halisnya hitam lebat, bulu matanya hitam panjang dan menggunakan lipstik pink muda, cantiikkk banget. Dan seperti tidur aja, bener2 nggak pucet seprti yg saya bayangkan.
Saya ingat, anak ini pendiam, kalau main dengan Kaka hanya senyum kalo saya tanya. Dan sopan, selalu membungkukkan badan kalau ketemu di Jalan. Duhh…udah deh broll aer mata langsung banjir.
Pas duduk, aer mata nggak berhenti, kebayang terus cantiknya anak itu, dan saya ingat ketika pertama ketemu, ni anakkk…kontras banget warna kulit dan rambutnya yang hitam pekat. Palagi liat fotonya yg besar terpampang sambil ciisss…mengacungk an 2 jari tanda perdamaian. Kawai banget. aroma dupa yang saya bayangkan bakal mendominasi ruangan, sama sekali nggak tercium, yang ada hanya wangi bunga dan alunan lembut koor teman2nya. Pokoknya khitmat banget jadi yang srak sruk nangis pada kedengeran, kalo saya alhamdulillah krn idung emang lagi mampet, jadi gak bunyi walo akhirnya jadi susah napas.
Akhirnya acara dibuka. Pendeta nya orang Jepang memasuki ruangan dan mulai semua mendengungkan semacam puji2an sambil memegang semacam tasbeh dan melipat dua tangan tanda berdoa. Kalo saya karena memangku Kirei, hanya mendengarkan saja, yah sambil berdoa dalam hati, semoga anak ini mendapatkan tempt terbaik disisi Alloh SWT.,Aminn.. ,
Oya, saya liat okasan nya ber kimono hitam. Cantik dan anggun. Lalu Kakak laki2 Keiko chan, yang dah besar dan yg kelas 5. Sepertinya mereka udah pasrah dan rela dg kepergian Keiko chan. mungkin krn mereka mengurus sakitnya cukup lama, diselingi beberapa kali datang ke sekolah. Mulai sakitnya Desember tahun lalu, jadi sekitar setahun an sd saat ini.
Setelah pendeta, membunyikan semacam gong kecil, semua bergantian maju menaburkan dupa. Nah bagian saya diminta maju, saya bingung. Wah digimanain yah?..akhirnya saya liat dulu orang lain. ohh..ternyata caranya. Badan membungkuk, ambil secuil dupa, taburkan ke semacam lilin kecil sd berasap, lalu berdoa dan balik ke kursi. Nah…krn saya berbeda keyakinan, saya hanya mencuil dupanya lalu saya taburkan ke lilim lalu kembali ke kursi.
Dan moment yang paling sedih adalah, ketika MC memanggil classmate Keiko chan. Untuk bernyanyi, sambil diselingi membaca otegami terakhir untuk Keiko chan..(petikan di bawah ini mungkin nggak sepenuhnya bener penulisannya, tapi krn td saya berusaha resapin bener ingin ngerti isi lagu dan otegaminya, yah..ini aja yg mungkin teringat..)
Keiko chan..
kyou wakareru toki ni..
akaruina koto…asobitari. .benkyoushitari. .wasurenai ne…
Keiko chan no daisuki na mono..
kurasu no naka ni itsu made mo mamorou..
Keiko chan..
hiroi sora ni ogenki de ne, shiawase ne……
Duhh…udah deh, smua ortu udah srak srik sruk nangis. Dan akhirnya setalah 2 lagu diiringi piano sensei selesai. Smua berbaris keluar. Menerima bingkisan berisi sekotak gimucha, otegami ucapan terimakasih dan garam.
Sampai di lantai 1, kita semua menonton dari 3 TV besar perpisahan terakhir keluarga Keiko chan dg nya. Semua membelai wajah Keiko, semua keliatan memberikan ucapan terakhir, dan giliran kaka laki2nya yg kelas 5, dia langsung ambruk. Mungkin baru menyadari sebentar lagi adiknya akan menjalani upacara pembakaran. Utk Nagoya katanya hanya di Yagoto tempat yg terdekatnya.
Dan semua rangkaian bunga dibongkar. dimasukkan ke dalam peti. Okashan nya nampak mengusap2 pipi nya, membenahi rambut dan bajunya, duhh…semua jelas terlihat dari Kamera di atas peti.
Akhirnya peti jenazah turun dg lift ke lantai 1. Anak2 kembali koor yg kira2 berisikan lagu perpisahan, kali ini semua anak nyanyi sambil nangis, dan sensei nya mah udah serek banget nggak kedengeran suaranya. KEtika mobil bergerak, sayonara…sayonara keiko channn…. semua anak melambaikan tangan, dan saya sendiri udah mulai pening nih kepala, saputangan mah udah jibrek basah.
Menurut Ito san, setelah jenazah dibakar. Debunya akan dimasukkan
kedalam kotak/ semacam kendi dari bahan keramik atau logam. Utk
beberapa hari dibawa ke rumah dan kemudian dikembalikan ke pemakaman
tergantung di daerah mana yg dinginkan, kebanyakan mah ke desa
leluhurnya katanya.
Akhirnya kita bubar pulang sambil membahas yang rata2 berisikan betapa cantik nya Keiko chan, betapa tabah okasan nya..
Yah…sekian dulu deh dongengnya. Sekarang mau beberes…dulu. .^-^
Udahan dulu yahh…punten pisan..kepanjangan,
Wassalamu alaikum wr wb
Nining
waw pengalaman yang seru sekaligus mengharukan, suteki hanashi. klo boleh cerita lebih banyak lagi dong, soal nya saya sangat tertarik dengan upacara di jepang, khususnya upacara kematiannya, sangat menarik. doumo arigato gozaimasu.
By: darma on March 1, 2008
at 9:14 pm
tunggu ajah edisi2 selanjutnya dgn sabar. maklumlah nulisnya juga kalo lagih mood. (smile mode)
By: lindeukjapati on March 30, 2008
at 6:04 pm